Djohan Sjahroezah: Sang Revolusioner Belakang Panggung

Asep Imaduddin AR

Hiruk-pikuk revolusi Indonesia selalu mengelu-elukan mereka yang berada di garis depan dalam sosok pemanggul senjata, dan sebarisan diplomat flamboyan yang berjuang dari satu perundingan ke perundingan lain. Yang pertama misalnya terwakili oleh Soedirman, Nasution, dan Bung Tomo. Dan yang kedua mewujud pada sosok-sosok seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Haji Agus Salim. Merekalah yang berada di atas podium sejarah.

Namun, tentu saja kita tak boleh lupa bahwa mereka yang berada di atas panggung sejarah, sejatinya dibantu secara klandestin oleh sebagian kecil yang berada di belakang panggung. Mereka tak menampakkan sosok dan perannya secara terbuka karena mereka selalu diawasi oleh pihak intelijen musuh yang tahu bahwa sesungguhnya mereka sosok yang berbahaya karena selalu memasok informasi dan logistik bagi perjuangan kemerdekaan. Salah satu sosok itu bernama Djohan Sjahroezah.


Djohan lahir dari sebuah keluarga yang berada pada tanggal 26 November 1912. Ayahnya seorang pegawai minyak zaman kolonial yang berkedudukan di Palembang dan sekaligus pengamat pergerakan. Ia pun dengan mudah bersekolah di ELS Medan, MULO Bandung, dan akhirnya menetapkan pilihan mengikuti jenjang pendidikan AMS di Batavia.

Ketika bersekolah di AMS itulah ia mendapatkan kenyataan bahwa, “Pada mulanya saya menderita oleh sikap menolak dan menghina dari pihak Belanda. Saya menerima dengan rasa sedih nasib saya, dan mulai menyangka bahwa dalam kehidupan ini saya akan terus berperan sebagai bangsa kelas kambing. Namun, lambat laun saya jelas, bahwa yang Maha Kuasa sekali-kali tidak akan mempunyai maksud untuk menghunikan bumi ini dengan bangsa yang ulung dan bangsa budak. Mulailah saya mengerti, bahwa hal itu adalah gagasan edan dari manusia-manusia saja” seperti dikutip dalam bukunya Riadi Ngasiran yang berjudul Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah.

Djohan yang kemudian berkuliah hukum di RHS semakin menjadi-jadi aktivitas politiknya. Apalagi ia bertemu dengan Maruto Notomihardjo dan Wilopo yang sama-sama menjadi anggota Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Tulisannya di majalah Indonesia Raja yang mengecam keras kerja sama para pemimpin dengan pemerintah kolonial diganjar dengan hukuman penjara selama 18 bulan di penjara Sukamiskin. Sekolahnya di RHS yang sebenarnya sudah mendapat predikat lulus ia tampik, karena Djohan tak mau menandatangani perjanjian untuk tidak aktif berpolitik sebagai syarat untuk melanjutkan sekolahnya di RHS. Inilah tekad seorang revolusioner yang berani mengorbankan kesenangan dirinya untuk terus berjuang mencapai cita-cita kemerdekaan.

Djohan kemudian melirik jurnalistik sebagai wadah perjuangannya. Setelah keluar dari Arta News Agency milik seorang Belanda bernama Samuel de Heer, bersama Adam Malik, Pandoe Kartawiguna, A. M. Sipahutar, dan Sumanang, Djohan Sjahroezah mendirikan Kantor Berita Antara. Salah satu spirit dari pendirian Antara adalah menyuarakan aktivitas-aktivitas pergerakan kemerdekaan yang tak pernah mendapat tempat di Kantor Berita kolonial Belanda Aneta yang dimiliki oleh D. W. Berrety.

Datangnya bala tentara pendudukan fasis Jepang yang menguasai Indonesia selama tiga tahun menjadi ancaman yang sangat mengerikan bagi aktivis pergerakan kemerdekaan. Jepang menutup rapat-rapat celah yang bisa digunakan. Apabila seorang aktivis kedapatan melakukan hal-hal yang mencurigakan, ia tak segan-segan mendapat hukuman berat dari tentara Jepang yang dikenal tanpa belas kasihan.

Karena itu, dengan mewaspadai adanya intaian Jepang yang terkenal kejam, Djohan Sjahroezah memberikan bekal pil pahit yang didalamnya berisi racun. Djohan memang menyadari, sesuai dengan namanya, “gerakan bawah tanah” harus bekerja secara rahasia dan tertutup. Musuh utamanya adalah pengkhianatan dari dalam diri gerakan itu sendiri, serta organisasi-organisasi atau badan-badan kontra gerakan bawah tanah, baik yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang.

Djohan Sjahroezah adalah sosok revolusioner yang berada di belakang panggung sejarah. Ia tak boleh diabaikan begitu saja. Ia hadir dalam membentuk jaringan-jaringan pemuda militan dan radikal di kota-kota utama di Jawa yang memberikan amunisi semangat perlawanan anti penjajahan.

Kaum pemuda didikan Djohan dan Bung Sjahrir sebagai mentornya, selalu menjadi pemantik di setiap momentum seperti Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan Pertempuran Surabaya 10 November 1945.


Asep Imaduddin AR

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close