Hamka, Bung Karno, dan Pram

Asep Imaduddin AR

Barangkali tak akan ada yang membantah kalau Hamka adalah salah seorang ulama besar yang pernah dimiliki oleh bangsa ini. Padahal, bangku pendidikan formal yang ia enyam hanya sampai kelas dua di sekolah rakyat. Belajar agama Islam di Madrasah Sumatera Thawalib Padang Panjang dan di Parabek Bukittinggi juga tak pernah diselesaikan Hamka. Selebihnya, ia  pencari ilmu secara otodidak. Hasilnya, sungguh mengagumkan. Reputasi Hamka sebagai ulama dan sastrawan ditulis oleh tinta emas dalam sejarah Indonesia.

Ia adalah bintang Danau Maninjau yang menyembul dari pelosok nusantara, menerobos Medan untuk memulai aktifitas kepenulisannya, dan kemudian masuk Jakarta yang sekaligus meneguhkannya sebagai sosok yang multi talenta. Sejarawan Ahmad Syafii Maarif dalam pengantar buku Adicerita Hamka yang ditulis James R. Rush menyebut Hamka sebagai pengarang, pemikir bebas, sastrawan, sejarawan publik, dan mufassir.


Merantau adalah jalan yang dipilih Malik-nama kecil Buya Hamka-untuk mencari ilmu di luar nagari Minangkabau. Tanah Jawa telah menarik Hamka untuk pergi ke sana. Jawa yang bergelora dan sedang menjadi persemaian kebangsaan menjadi tempat tujuan Hamka di usia yang masih belia, 15 tahun.

Di Jawa-lah Hamka belajar tentang Islam dan Sosialisme pada pentolan Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto. Belajar agama pada Haji Fachruddin. Sosiologi ke Soerjopranoto. Berguru logika dengan Ki Bagus Hadikusumo. Dan tak boleh dilupa, Hamka juga menimba ilmu pada kakak iparnya yang bernama Buya A.R Sutan Mansyur di Pekalongan. Kelak, beberapa tahun kemudian ia menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah di tahun 1950-an.

Tak terlalu lama di Jawa, Hamka memutuskan pulang kampung guna menghormati pesan ayahnya Syekh Abdul Karim Amrullah dan kakak iparnya. Tak puas di kampung sendiri dan karena merasa dilecehkan akibat tak punya diploma untuk mengajar, ia pun segera bertolak ke salah satu pusat pengajaran Islam yang paling sohor ketika itu, kota Mekkah.

Atas nasihat Haji Agus Salim-lah, Hamka yang semula hendak mukim beberapa tahun di Mekkah, meringkas salah satu pengembaraan intelektualnya untuk segera pulang ke tanah air dan memulai jalan dakwah.

Lambat laun karir keulamaannya pun terlihat menonjol. Mula-mula ia mengusahakan jalan dakwah dengan pena. Maka lahirlah beberapa buku agama hasil karangan Hamka seperti Pembela Islam, Adat Minangkabau dan Agama Islam, Tasawuf Modern, Lembaga Hidup, Sejarah Umat Islam, dan lain-lain. Beberapa karya sastra Hamka tak urung mewarnai khazanah kesusasteraan Indonesia seperti Si Sabariah, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Agak sulit memang menempatkan Hamka di “kotak” mana ia berada. Sebagai sastrawan, Hamka menulis sejumlah novel. Ia dikenal juga sebagai penulis kolom-kolom pendek di Pedoman Masjarakat, majalah yang pernah dipimpinnya di Kota Medan ketika tahun 1930-an, di awal-awal masa karirnya. Sebagai sejarawan otodidak, ia menulis empat jilid tebal Sejarah Umat Islam.

Dan pungkasnya, ia menulis Tafsir Al Azhar sebagai magnum opus-nya. Sebuah karya yang lahir dari dalam penjara Orde Lama ketika Hamka menjalani masa tahanan atas tuduhan fitnah makar yang tak pernah dilakukannya sama sekali. Inilah salah satu hikmah terbesar, yang menurut pengakuan Hamka, jika saja ia tak meringkuk dalam dinginnya “hotel prodeo” barangkali ia tak akan pernah bisa menyelesaikan tafsir yang sangat berpengaruh di Indonesia dan Malaysia ini.

Iklim politik yang condong ke “kiri” di tahun 1960-an membuat Hamka ditahan oleh rezim Soekarno pada tahun 1964. Atas usulan Partai Komunis Indonesia (PKI), Hamka akan ditahan selama dua tahun empat bulan. Untunglah, akibat pageblug September 1965, PKI segera sirna dari bumi Indonesia dan di cap sebagai partai terlarang. Dan Hamka pun segera bebas dari penjara.

Walaupun menyandang status sebagai mantan narapidana politik, Hamka tak menaruh dendam pada siapapun. Termasuk pada Soekarno. Ia justru malah menjawabnya dengan mengambil hikmah bahwa jika ia tak masuk penjara, mungkin tafsir Al Azhar yang monumental itu tak akan selesai sampai kapan pun.

Kebesaran hati Buya Hamka pada Bung Karno ia tunjukkan ketika proklamator Republik Indonesia itu wafat pada 21 Juni 1970. Hamka tiba-tiba dijemput oleh Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto, yang mengabarkan bahwa Soekarno telah wafat. Ia membawa pesan untuk Hamka dari Soekarno yang kira-kira isinya adalah bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.

Tanpa berpikir panjang lagi Hamka pun segera meluncur ke Wisma Yaso. Dengan mantap Hamka menjadi imam shalat jenazah bagi mantan presiden pertama republik Indonesia itu, yang bagi Hamka, Bung Karno mempunyai dua jasa besar  untuk umat Islam Indonesia. Dua buah masjid. Satu di istana negara, yaitu masjid Baitul Rahim, dan satunya lagi masjid Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara.

Sikap serupa ia tunjukkan pada Pramoedya Ananta Toer, seterunya pada masa Orde Lama. Pram, sebagai dedengkot Lekra dengan garang dan bergelora lewat lembaran Lentera yang diasuhnya di koran Bintang Timur menuduh Hamka melakukan plagiat atas Tenggelamnya Kapan Van Der Wijk. Berbulan-bulan Hamka kena fitnah di koran yang berafiliasi komunis tersebut.

Bertahun kemudian setelah Pram keluar dari tahanan di Pulau Buru, Hamka kedatangan sepasang tamu. Si perempuan bernama Astuti. Si pria bernama Daniel Setiawan. Astuti mengaku ia adalah anak sulung dari Pram, dan menemani Daniel guna menemui Hamka. Maksud kedatangan mereka berdua adalah agar Daniel mempelajari Islam sekaligus menjadi muallaf. Ayahnya, Pramoedya Ananta Toer, tidak setuju bila anak perempuannya yang muslimah menikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan agama.

Tanpa ragu, Hamka meluluskan permintaan Astuti. Konflik yang pernah terjadi beberapa tahun yang silam antara Pram dan Hamka seolah tak pernah ada. Kawan Pramoedya bernama Dr. Hoedaifah Koeddah pernah menanyakan kepada Pram kenapa ia mempercayakan masalah agama pada Hamka.

“Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk kepada Hamka.” Pramoedya menjelaskan dengan gamblang.

Begitulah kebesaran hati Hamka. Dendam tak pernah dipendam. Ia selalu membukakan pintu maaf, bahkan kepada yang dianggap “lawan” sekalipun.


Asep Imaduddin AR

Lulus dari Pendidikan Sejarah UPI Tahun 2005 dengan skripsi tentang Murtadha Muthahhari. Beberapa tulisannya sempat dimuat di Galamedia, Pikiran Rakyat, Kompas Jawa Barat, Suara Muhammadiyah, Koran Jakarta dan Media Pembinaan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *