Lafran Pane: Pahlawan Nasional

Mi’raj Dodi Kurniawan

Adalah mengejutkan sekaligus membahagiakan tatkala membaca sebuah kabar dari portal berita republika.co.id pada Jumat sore (3/11/2017), yang bertajuk “Presiden Jokowi Setuju Pendiri HMI Jadi Pahlawan Nasional”. Mengejutkan, sebab sesudah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) mengusulkan gelar Pahlawan Nasional bagi Lafran Pane (5 Februari 1922 – 25 Januari 1991), pemrakarsa pendirian Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang cukup berliku, akhirnya Presiden RI mengabulkan usulan tersebut.

Kabar ini juga membahagiakan, paling tidak bagi keluarga besar HMI dan KAHMI serta para simpatisan organisasi yang dibentuk di Yogyakarta, 5 Februari 1947. Sebab, meski almarhum Lafran Pane tak memerlukan gelar kepahlawanan, tetapi gelar ini sangat penting artinya bagi masa depan umat dan bangsa. Selain tanda pengakuan, tentu saja anugerah gelar kepahlawanan ini akan menambah khazanah figur pahlawan nasional dan bisa jadi ikut membangun karakter dan meningkatkan semangat juang kader HMI di kancah keumatan dan kebangsaan.


Dikabarkan, sesudah diterima Presiden Jokowi di Istana Merdeka (3/11), Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI Mahfud MD mengakui bahwa hari Kamis, 9 November 2017, Presiden Jokowi akan memberikan gelar pahlawan kepada pendiri HMI Lafran Pane. Dasar pertimbangannya, karena HMI organisasi mahasiswa ekstra kampus tertua, terbesar, dan banyak berkontribusi bagi umat dan bangsa. Adapun sepak-terjang kepahlawanan Lafran Pane telah teruji secara sahih dalam Kongres XI HMI tahun 1974 di Bogor, Jawa Barat, dan di banyak perguruan tinggi.

Mendirikan dan Membesarkan HMI

Mudah diduga bahwa penghargaan luar biasa Presiden RI kepada Lafran Pane bukan karena alasan personal, namun karena lelaki kelahiran Pangurabaan, Sipirok, Tapanuli Selatan tersebut telah membidani kelahiran HMI. Dalam sejarah keumatan dan kebangsaan, sulit dimungkiri bahwa organisasi berlambang tameng ini berperan aktif, baik di tataran kultural maupun struktural. Dalam posisinya sebagai organisasi perkaderan (cadre forming) yang sejak awal telah menegaskan orientasi keislaman dan keindonesiaan, ia (baca: HMI) turut menyiapkan kader bahkan pemimpin umat dan bangsa.

Dengan kata lain, figur Lafran Pane mulia dan namanya terangkat karena akhirnya, ternyata HMI yang ia prakarsai pembentukannya ini adaptif, membesar, dan berkontribusi signifikan terhadap persatuan dan kemajuan umat dan bangsa. Artinya, anugerah kepahlawanan ini bertitik tekan kepada pertimbangan bahwa peranannya dalam mendirikan HMI wajib dihargai. Ringkas kata, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa di balik kebesaran HMI berdiri figur pemrakarsa yang berjiwa dan berkontribusi besar, yaitu Lafran Pane.

Jiwa dan kontribusi besar Lafran Pane bukan saja dalam mendirikan dan mengisi perkaderan HMI, tetapi juga mengawal sejarah perkembangan Indonesia. Dalam konteks yang terakhir disebutkan, Saidi (1989: 227) menyatakan, apabila sejarawan Nugroho Notosusanto mengidentifikasi empat kelompok yang berperan penting dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, maka Lafran Pane termasuk dalam kelompok keempat, yakni kelompok kaum muda campur aduk yang bermarkas di Menteng Raya 31. Artinya, Lafran Pane salah seorang pemicu proklamasi. Itu sebabnya, ia diundang dan menghadiri pertemuan ke-2 pemrakarsa proklamasi pada hari Kamis, 13 Agustus 1970.

Dalam buku Lafran Pane: Jejak Hayat dan Pemikirannya karya Hariqo Wibawa Satria, kontribusi luar biasa Lafran Pane terhadap HMI terbaca kentara. Jiwa dan kontribusi besarnya tergurat sejak masa-masa awal pembentukan HMI. Ia tidak hanya menginisiasi pembentukan HMI, melainkan juga tulus melakukan regenerasi kepemimpinan di HMI semenjak baru didirikan dan membentuk HMI di berbagai perguruan tinggi di Tanah Air.

Dalam konteks regenerasi kepemimpinan HMI pada masa-masa awal, hal itu dapat dijelaskan dalam cerita sejarah berikut. Alkisah sejak HMI berdiri pada 5 Februari 1947, Lafran Pane didaulat menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI. Namun, 7 bulan kemudian, yaitu pada 22 Agustus 1947, ia mengundurkan diri dan memilih menjadi Wakil Ketua Umum. Lalu, siapa figur Ketua Umum PB HMI penggantinya? Ialah Mohammad Syafa’at (M.S) Mintaredja dari Universitas Gajah Mada (UGM) (Satria, 2011: 60-61).

Kelak, strategi Lafran Pane yang mendorong M.S. Mintaredja dari UGM menjadi Ketua Umum PB HMI terlihat jenius. Sebab, tidak saja berhasil menolak stereotip HMI milik mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI), tetapi juga menjadi langkah awal memperluas dakwah HMI di kampus umum (non-keislaman) serta memperkuat posisi HMI di dunia kemahasiswaan. Jadi, Lafran Pane bukan hanya pendiri, namun juga peletak dasar tradisi membesarkan HMI. Ia tidak bernafsu membesarkan dirinya sehingga membentuk kultus individu, namun bersungguh-sungguh membesarkan HMI.

Nilai Keteladanan

Akhirnya, setidak-tidaknya ada enam nilai keteladanan yang dapat dipetik dari Pahlawan Nasional Lafran Pane. Kesatu, berani mengambil inisiatif dan peranan sosial demi pergerakan sejarah kemajuan umat dan bangsa. Kedua, mengharmoniskan relasi keislaman dengan keindonesiaan. Ketiga, menawarkan tafsir keislaman yang segar dan menggerakkan. Keempat, menegaskan tugas umat Islam untuk mengajak umat manusia kepada kebaikan dan mewujudkan suatu masyarakat yang adil makmur, baik secara material maupun spiritual.

Kelima, berjiwa, berpikiran dan berkontribusi besar tanpa membesar-besarkan diri sendiri. Keenam, menjadi teladan hidup bahwa tatkala kita hendak membesarkan sesuatu, maka kita bukan hanya harus fokus menjalankan berbagai strategi dan taktik, tetapi juga harus rela dan berani serta pandai membesarkannya. Terakhir meski bukan berarti tidak penting, Lafran Pane memang bukan manusia sempurna laksana Nabi. Namun, berdasarkan kesaksian banyak orang dan catatan sejarah, rasa-rasanya ia adalah pribadi yang ikhlas dan bersahaja.


Terima kasih dan salut, Kakanda Lafran Pane. Bahagia HMI. Bahagia umat Islam. Bahagia bangsa Indonesia. ***

* Esai ini diolah dari opini penulis berjudul “Lafran Pane Pahlawan Nasional” yang pernah dimuat di surat kabar Republika Jawa Barat edisi hari Rabu, 8 November 2017.

Referensi

Saidi, Ridwan. 1989. Mahasiswa dan Lingkaran Politik. Jakarta: Lembaga Pers Mahasiswa Mapussy Indonesia.

Satria, Hariqo Wibawa. 2011. Lafran Pane: Jejak Hayat dan Pemikirannya. Jakarta: Lingkar.

Mi’raj Dodi Kurniawan

Lulusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI tahun 2006 dengan skripsi mengenai sejarah dan pemikiran Paulo Freire. Pernah memenangkan sayembara menulis tingkat lokal dan nasional. Beberapa artikelnya dimuat di Jurnal Atikan, Susurgalur, dan Mimbar Pendidikan. Sejumlah esainya diterbitkan di Pikiran Rakyat, Republika Jawa Barat, Media Indonesia, Tribun Jabar, Galamedia, Bandung Ekspres, Kabar Priangan, Radar Sukabumi, Majalah Nabil, Pelita Online, Jabar Today, Geotimes dll. Sudah menerbitkan buku “Kamus Pintar Sejarah Dunia”. Naskahnya yang berjudul “Sukarno Belia: Mata Air Keteladanan” terpilih sebagai bahan bacaan Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2017 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.



Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Terdeteksi

Harap pertimbangkan untuk mendukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda