Populer

Medan Pengabdian Kasman Singodimedjo

Asep Imaduddin AR

Namanya pendek saja, Kasman. Singodimedjo barangkali nama bapaknya. Jadilah ia bernama Kasman Singodimedjo. Namanya khas Jawa, dan barangkali terkesan abangan yang tak dekat-dekat amat dengan Islam. Hal ini berbeda benar dengan nama kawan-kawan seangkatannya di pergerakan Islam zaman kolonial hingga akhir hayatnya di awal-awal Orde Baru seperti Mohamad Natsir, Mohamad Roem, dan Hamka yang bernuansa kearab-araban.

Nyatanya, Kasman Singodimedjo adalah seorang pejuang Islam yang konsisten. Mengutip tulisan Mohamad Roem dalam Bunga Rampai Sejarah 3, namanya: Singa di meja. Kenyataannya: Singa di mana-mana. Tidak hanya itu, Kasman Singodimedjo juga ikut andil dalam membangun Indonesia lewat peranannya di awal-awal kemerdekaan. Maka tak heran jika tahun ini, Kasman Singodimedjo menjadi salah satu anak bangsa yang dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Ada dua versi mengenai tahun kelahiran Kasman Singodimedjo yakni tahun 1904 dan 1908 dengan tanggal dan bulan yang sama yaitu 25 Februari. Ensiklopedi Indonesia pertama keluaran tahun 1955 mendokumentasikan bahwa Kasman lahir tahun 1908 tanpa menyebut tanggal dan bulan kelahiran. Mohamad Roem-kawan dekatnya-yang mengenal Kasman sejak tahun 1924 ketika bersekolah di Stovia dalam obituari ketika Kasman meninggal dunia menuliskan bahwa ia lahir pada 25 Februari 1904.

Sedangkan Benedict Anderson dalam Lampiran Biografi untuk bukunya yang telah menjadi klasik, Revolusi Pemuda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, mencatat bahwa bahwa Kasman Singodimedjo lahir pada tanggal 25 Februari 1908. Bapaknya merupakan seorang pengurus agama di desa dan seorang priyayi rendahan. Barangkali karena itulah di depan nama Kasman tersemat gelar raden. Kasman yang lahir di tengah-tengah gelora politik etis merasakan betul dampak bagi pendidikannya.

Bahkan menurut Yudi Latif dalam Intelegensia Muslim dan Kuasa, bahwa periode antara 1920-an sampai dengan awal pendudukan Jepang pada 1942 merupakan masa keemasan bagi akses kaum pribumi terhadap pendidikan modern dengan kualitas standar Eropa pada abad ke-20. Penguasaan mereka atas bahasa Eropa memberi paspor untuk bisa masuk ke dalam lingkungan warga “Republik Susastra” Barat yang merupakan sumber utama dari pengetahuan dan peradaban barat. Pada saat-saat inilah Kasman menapaki jejak dan membuat fondasi bagi arah pergerakannya kelak. Ia bersekolah dan bergaul dengan anak muda dari seluruh penjuru nusantara. Karena hanya baru di Jakarta-lah ada dua sekolah tinggi yakni bidang kedokteran dan hukum yang belum lama berdiri.

Dengan kesederhanaan, Kasman bisa menempuh pendidikannya di HIS, MULO, Stovia, dan akhirnya memperoleh gelar sarjana di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta.  Dalam kesaksiannya, Mohamad Roem menulis bahwa “Hampir semua murid belajar dengan ikatan dinas. Tiap bulan mendapat uang saku yang cukup, untuk mengupahkan cucian pakaian dalam dan membersihkan sepeda. Kemudian saya tahu bahwa bapak Kasman dari tunjangan uang saku itu masih membelanjai sekolah adiknya. Karena itu bapak Kasman memerlukan benar-benar tiap sen dihemat, agar dapat membantu adik-adiknya mengikuti pelajaran sekolah, yang orang tuanya tidak mampu membayarnya.”

Salah satu tonggak penting Kasman menceburkan diri ke dalam dunia aktivis adalah ketika ia bergabung dengan JIB (Jong Islamieten Bond). Sebuah organisasi yang terilhami oleh seorang mentor politik tiada tanding, Haji Agus Salim. JIB ini beranggotakan anak-anak muda yang masih menuntut ilmu di sekolah-sekolah “sekular” milik kolonial seperti di Stovia dan RHS. Diantaranya adalah Roem, Kasman Singodimedjo, Yusuf Wibisono, Prawoto Mangkusasmito, Sjafruddin Prawiranegara, Isa Anshari, dan Natsir. Kemunculan JIB ini menjadi penting karena-mengutip R. E. Elson-untuk pertama kali, dasar perkumpulan pemuda pada nasionalisme sempit telah didobrak. Anak-anak muda JIB yang saat itu berusia 20-an tahun barangkali melihat bahwa di sekeliling mereka teramat kurang organisasi yang berasaskan pada Islam. Dan mereka menyadari bahwa masa depan Islam di Indonesia di waktu mendatang akan menjadi tanggung jawabnya.

JIB menurut Yudi Latif merupakan katalis paling penting bagi transmisi tradisi-tradisi politik “intelektual” muslim dari generasi pertama ke generasi kedua. JIB yang lahir pada bulan Januari 1925 di Jakarta dengan segera menjadi ruang-ruang baru bagi pelajar atau mantan pelajar dari sekolah-sekolah menengah yang secara ideologis dekat dengan Islam.

Kasman yang waktu itu masih merupakan pelajar bagian persiapan Stovia tercatat pernah menjadi ketua JIB periode ketiga antara tahun 1930-1935. Dardiri Husni dalam tesisnya berjudul Jong Islamieten Bond: A Study of Muslim Youth Movement in Indonesia During The Dutch Colonial Era 1924-1942 yang ditulisnya untuk McGill University pada 1998 menelusuri perjalanan JIB sebagai salah satu organisasi anak muda muslim di Indonesia sepanjang mulai berdirinya hingga Belanda menyerah pada Jepang.

Pada kongres kelima JIB yang diadakan pada Desember 1929, Kasman menggantikan Wiwoho yang telah usai memimpin organisasi dari tahun 1926-1929. Salah satu tugas pertamanya adalah mengadakan tur organisasi ke tanah Sumatera bersama Mohamad Roem. Terutama di Sumatera Barat, ia dan Roem berhasil mendirikan sejumlah cabang seperti di Bukit Tinggi, Padang Panjang, Sawah Lunto, dan Payakumbuh. Sedangkan di Sumatera Utara dan Aceh, cabang-cabang JIB yang berdiri adalah di Sibolga, Padang Sidempua, Sigli, dan Lhokseumawe. Hasilnya cukup lumayan. Di akhir 1930, terdapat 39 cabang yang beroperasi dan pada tahun 1933 jumlahnya meningkat menjadi 55 cabang dengan anggota 4000  orang.

Pada masa kepemimpinannya, Kasman dan Natsir ingin mengubah arah gerak organisasi JIB serupa dengan Muhammadiyah atau Persis yang bergerak di bidang sosial, kesehatan, dan pendidikan. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang Kasman dan Natsir yang juga merupakan aktivis Muhammadiyah dan Persis. Namun ide ini tak mendapat tempat. Barangkali karena aktivitasnya sebagai organisatoris, Kasman tak menyelesaikan pendidikannya menjadi seorang dokter. Untunglah ia tamat di sekolah tinggi hukum di Batavia dan berhak menyandang gelar Mr. Kasman Singodimedjo.

Setelah tak lagi menjadi aktivis JIB, ia menjadi guru di sejumlah sekolah Muhammadiyah. Hal ini mudah dipahami bahwa sebelumnya ia pun telah aktif di Muhammadiyah. Kasman mulai moncer sebagai tokoh Muhammadiyah, konon setelah ia membuat gempar sebuah konferensi Muhammadiyah di Bogor pada Mei 1940. Ia berpidato dan berucap yang kira-kira intinya adalah demi Indonesia merdeka. Karuan saja, ucapan subversif ini membuat gerah intel kolonial dan langsung menciduknya. Ia kemudian ditangkap dan diadili di Bogor. Untung, ia dibebaskan dari tuntutan jaksa. Tokh, Kasman tak kapok dengan apa yang telah dilakukannya, karena ia barangkali meyakini bahwa suatu saat nanti Indonesia akan mendapat kemerdekaan, bukan dengan cara diberikan oleh penjajah melainkan karena hasil perjuangan bangsanya sendiri.

Karena barangkali Kasman merupakan seorang yang terpelajar dan menjadi tokoh Muhammadiyah khususnya di wilayah Jakarta, maka ketika Jepang masuk dan bermaksud mendirikan tentara PETA pada Oktober 1943, maka dengan mudah Kasman menjadi seorang yang terpilih untuk menjadi semacam daidancho atau komandan batalion. Menurut Ben Anderson dalam Revolusi Pemuda, mereka yang dipilih menjadi daidancho, tidak diberi latihan militer yang intensif dan juga tak dimasukkan asrama. Fungsi utama mereka adalah menjalankan kepemimpinan moral dan pengawasan politik pada anak buahnya.

Dari menjadi daidancho inilah kelak, Kasman ikut menjadi salah satu tokoh yang merumuskan dasar-dasar kenegaraan sehari setelah proklamasi. Karena Kasman pulalah, Ki Bagus Hadikusumo hatinya menjadi luluh dan ikut menyetujui bahwa perumusan sila pertama dasar negara itu menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketika itu ia diminta Bung Hatta setelah tokoh Islam yang lain seperti Teuku Mohammad Hasan dan K. H. Wahid Hasyim tak berhasil membujuk Ki Bagus.

Medan pengabdian Kasman Singodimedjo kemudian berlabuh sepenuhnya di Partai Masyumi, bersama-sama kawan-kawannya semasa muda seperti Natsir dan Roem.


Asep Imaduddin AR Penulis Terverifikasi

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *