Populer

Nasionalisme A. R. Baswedan

Asep Imaduddin AR

Nama lengkapnya Abdul Rahman Baswedan atau lebih dikenal sebagai A. R. Baswedan. Salah satu cucu beliau adalah Anies Baswedan yang kini sedang memangku jabatan sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. A. R. Baswedan-yang tentu saja seorang keturunan Arab dilihat dari namanya-ini sungguh unik jika kita melihat peranannya dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Sungguh tepat tentu saja, pada tahun ini pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional.

Ia secara historis dan asal-usul tak pernah punya ikatan langsung dengan tanah tumpah Indonesia. Ia berdarah Hadramaut yang lahir di Kampung Ampel, Surabaya, pada tanggal 9 September 1908 dari seorang ayah bernama Awad Baswedan. Mereka datang dari Hadramaut atau yang kita kenal sekarang sekarang sebagai Yaman Selatan dengan tujuan berganda, yakni menyebarkan agama Islam sekaligus berdagang.

Lingkungan keluarganya yang cukup berada membuat A. R. Baswedan mampu mendapatkan pendidikan yang baik bagi dirinya. Dan menariknya, karena bisa sekolah dengan baik inilah ia sama sekali tak berminat menjadi pedagang sebagaimana mayoritas keluarganya, ia mengkritik diskriminasi sosial dalam masyarakat Arab di Indonesia pada waktu itu. Rupanya, pendidikan yang telah diterimanya mampu membuka alam pikiran Baswedan untuk melihat segregasi sosial yang terjadi akibat penjajahan kolonial yang telah berlangsung lama.

Melihat rupa-rupa diskriminasi akibat kolonialisme itu, ia malahan menceburkan diri pada pergerakan kebangsaan. Mula-mula, ia menjadi Muballigh Muhammadiyah dan juga aktif di Jong Islamieten Bond (JIB). Sebuah organ pemuda Islam terpelajar yang bertujuan mempersiapkan kader-kader intelektual muslim di masa depan.  Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, ia pernah bekerja sebagai redaktur di sejumlah surat kabar seperti di Harian Sin Tit Po dan Soeara Oemoem di Surabaya antara tahun 1932 sampai 1933. Lalu Harian Mata Hari di Semarang tahun 1934.

Ketika menjabat redaktur di Mata Hari inilah ia membuat kegemparan di kalangan Arab seperti diceritakan dalam Biografi A. R. Baswedan: Membangun Bangsa Merajut Keindonesiaan. Surat kabar peranakan Tionghoa itu memuat foto dirinya beserta dua sahabatnya yang lain. A. R Baswedan menggunakan beskap dan belangkon sambil menyerukan agar kaumnya yakni peranakan Arab agar bersatu membantu perjuangan bangsa Indonesia. “Dimana seseorang dilahirkan, disitulah tanah airnya.

Pemikiran Baswedan yang kental dengan nasionalisme merupakan cikal-bakal berdirinya Persatuan Arab Indonesia (PAI) pada tanggal 5 Oktober 1934. Sehari sebelumnya, masyarakat Arab seluruh Indonesia dikejutkan dengan diucapkannya “Sumpah Pemuda Keturunan Arab” yang jelas terinspirasi oleh Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Perjalanan PAI selama tiga tahun kemudian bersalin rupa dari kata “Persatuan” diganti dengan “Partai”.

Aktivitasnya dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia membuat dirinya berkenalan tokoh-tokoh kunci pendiri bangsa ini semisal Bung Karno dan Bung Hatta. Salah satu peranan A. R. Baswedan yang cukup penting adalah ketika ia ditunjuk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Bersama dengan yang lain, dirinya aktif mengikuti sidang-sidang yang dilakukan secara maraton pada tanggal 28 Mei-1 Juni 1945 dan 10-17 Juli 1945. Dalam pidatonya di forum BPUPKI itu sekali lagi ia menegaskan bahwa tanah air peranakan Arab tidak ada lain kecuali Indonesia.

Ada kisah menarik yang diceritakan A. R. Baswedan sendiri dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim ihwal bagaimana ia dengan Haji Agus Salim, Nazir St. Pamuntjak, dan Rasjidi datang ke Mesir guna mendapatkan pengakuan dari negara-negara Arab. Singkatnya, selepas diplomasi di Mesir itu ia mesti berangkat sendirian ke Singapura dengan membawa dokumen yang sangat penting pada tanggal 18 Juni 1947. Saat itu Haji Agus Salim berpesan, “Baswedan, bagi saya tidaklah penting apakah saudara sampai di tanah air atau tidak. Yang penting dokumen-dokumen itu sampai di Indonesia dengan selamat.

Dengan susah payah Baswedan melakukan misi yang sangat penting ini. Pesawat terbang yang menuju Singapura itu mampir-mampir di Bahrain, Karachi, Calcuta, dan Rangon. Itupun dengan perasaan was-was karena nama Indonesia belum dikenal. Bahkan, di Calcuta ia terpaksa menggertak penumpang lain yang akan mencatut tempat duduknya dengan mengaku sebagai agen rahasia undangan Nehru.

Dengan keuangan yang semakin menipis, tibalah ia dengan selamat Singapura. Dan dengan bantuan Ibrahim Assegaf dan Ali Tahlib Yamani, Baswedan bisa mendapatkan tiket pulang menuju Jakarta, walaupun ia belum tentu bisa selamat dari pemeriksaan di Bandara Kemayoran yang pada waktu itu mendapat penjagaan ketat oleh Polisi Militer Belanda atas perintah Van Mook.

Jari tangan kanan Baswedan memegang tasbih. Tangan kirinya memegang aktentas catatan penting dengan kunci yang masih sering macet. Sudah pasti dengan izin Allah Swt, aktentas dan juga koper lolos dari pemeriksaan. Petugas pemeriksa itu seperti sedang tak melihat ketika Baswedan lewat didepannya. Dan kemudian ia pun bergegas menuju kediaman Perdana Menteri Amir Sjarifuddin.

Ketika ditanya oleh Bung Karno selepas tiba di Jogja bagaimana ia bisa lolos dari pemeriksaan, Baswedan menjawab singkat, “Untung.”


Asep Imaduddin AR Penulis Terverifikasi

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *