Populer

Raden Mas Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara)

Mini Biografi: Pendiri Perguruan Nasional Tamansiswa

Ki Hajar Dewantara adalah nama yang dipergunakan oleh Raden Mas Suwardi Suryaningrat sejak tahun 1922. Suwardi dilahirkan di Yogyakarta, 2 Mei 1889 dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman putra dari GPH Suryaningrat dan cucu dari Pakualam III. Dia menamatkan ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda) dan melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) namun tidak sampai selesai karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan dibeberapa surat kabar, pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

Selain sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Budi Utomo bersama Dr. Danudirja Setiabudi dan Dr. Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan Indische Partij pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan Indonesia merdeka. Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Namun pemerintah kolonial Belanda menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913 dengan alasan organisasi ini dianggap bertentangan dengan pemerintah kolonial Belanda.

Ia kemudian ikut membentuk Komite Bumiputera pada November 1913 yang merupakan komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Bumiputera itu melancarkan kritik terhadap pemerintah Belanda yang bermaksud mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi untuk merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis.

Ki Hajar Dewantara mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga) yang dimuat pada surat kabar De Expres pimpinan Danudirja Setiabudi, 13 Juli 1913. Akibat tulisannya itu, pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman interneering (hukuman buang) ke Pulau Bangka atas permintaannya sendiri.

Setiabudi dan Cipto Mangunkusumo menerbitkan tulisan membela Suwardi. Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat, keduanya kemudian dikenakan hukuman internerring pula. Namun mereka menghendaki dibuang ke negeri Belanda karena di sana mereka bisa mempelajari banyak hal daripada di daerah terpencil. Mereka diizinkan ke negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan oleh Mas Suwardi Suryaningrat sehingga berhasil memperoleh Europeesche Akte.

Setelah pulang dari pengasingan tahun 1919, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa, tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Namun  dengan kegigihan memperjuangkan haknya, ordonansi itu kemudian dicabut.

Pada zaman pendudukan Jepang, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pemimpin Putera, selain Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada. Nama Ki Hajar Dewantara kemudian dikenal sebagai pahlawan pendidikan (Bapak Pendidikan Nasional). Tanggal kelahirannya, 2 Mei, dijadikan hari Pendidikan Nasional. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui S.K. Presiden RI No.305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *