Populer

Naskah Sejarah Sunan Gunung Jati

Prof. Dr. Dadan Wildan Anas M. Hum

Ikhtisar Tulisan

  • Pendahuluan
  • Naskah Sejarah Sunan Gunung
  • Naskah Sunan Gunung Jati Dalam Bentuk Prosa
  • Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN)
  • Babad Tanah Sunda (BTS)
  • Sajarah Cirebon
  • Cerita Sunan Gunung Jati Dalam Naskah-Naskah Cirebon Berbentuk Tembang
  • Naskah Carub Kanda
  • Naskah Babad Cèrbon Brandes
  • Naskah Babad Cerbon Hadisutjipto
  • Naskah Wawacan Sunan Gunung Jati (WSGJ)
  • Perbandingan Bentuk, Isi, Dan Episode Cerita Sunan Gunung Jati
  • Penutup
  • Referensi

Pendauluan

Hingga kini, tokoh Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, setelah ia wafat, dianggap sebagai tokoh penyebar agama Islam di Jawa Barat dan penegak kekuasaan Islam pertama di Cirebon (Graaf, 1976: 11-12; Ekadjati, 1978: 29-30; Muhaimin, 1995: 9). Dialah tokoh suci (saint man) dan panutan umat Islam yang diakui telah menurunkan para sultan Cirebon (Sulendraningrat, 1974: 20-21; Effendi, 1994: 45-48). Citranya sebagai sultan yang menurunkan para sultan Cirebon, dan juga para sultan Banten, serta sebagai penyebar Islam di Jawa Barat yang layak dihormati dan pantas diteladani terlihat dari penghormatan para peziarah yang hampir setiap hari mengunjungi makamnya, ada yang mendoakannya, menghormatinya, bahkan meminta keramat-berkahnya.

Berbagai karya tulis yang menceritakan sosok Sunan Gunung Jati telah banyak dilahirkan sejak abad delapan belas, baik dalam naskah-naskah lama[1] maupun buku-buku yang terbit masa kini. Sungguhpun demikian, hingga kini, cerita tentang figur Sunan Gunung Jati masih banyak diwarnai oleh aspek-aspek fiksional[2] sehingga menjadi tidak jelas gambaran dan kedudukan historisnya. Naskah-naskah lama dan buku-buku terbitan baru yang bahan penulisannya berdasarkan naskah-naskah lama, yang disusun oleh masyarakat umum[3] tentang sosok Sunan Gunung Jati, biasanya merupakan sebuah karya sastra[4] atau karya tulis sejarah yang disusun secara tradisional. Secara umum, karya-karya tulis tersebut tidak terikat oleh fakta-fakta sejarah dalam susunan karangannya, tetapi terkesan bebas-seirama dengan lingkungan sosial-budaya penyusunnya dan merupakan produk kebudayaan lokal di Indonesia (Pitono, 1972: 100; Ekadjati, 1982/1983: 1, 27).

Karya sastra sejarah yang menceritakan tokoh Sunan Gunung Jati ditemukan di Cirebon dan Priangan, antara lain, berjudul Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cêrbon, Sajarah Cêrbon, Sajarah Babad Nagari Cêrbon, Babad Sunan Gunung Jati, Wawacan Sunan Gunung Jati, Babad Walangsungsang, Wawacan Walangsungsang, dan Sajarah Lampahing Para Wali Kabeh[5] yang sebagian besar ditulis dalam huruf Arab Pegon dan huruf Jawa. Hanya sebagian kecil yang ditulis dalam huruf Latin dengan menggunakan bahasa Jawa-Cirebon, Sunda, dan Melayu, baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Naskah-naskah dengan beragam judul di atas, berdasarkan informasi dari berbagai katalogus[6], yang dapat didata hanya sebanyak 68 naskah. Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga” Bandung menyimpan naskah klasik itu sebanyak 6 naskah, Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) yang disimpan di Yayasan Pemeliharaan Naskah (YAPENA) Bandung ada 15 naskah, Perpustakaan Nasional Jakarta menyimpan 18 naskah, Museum Sonobudoyo Yogyakarta ada 2 naskah, dan Universiteit Bibliotheek Leiden (UBL) Belanda menyimpan 12 naskah. Universitas Padjadjaran menyimpan 13 mikrofilm naskah yang berasal dari naskah-naskah koleksi pribadi. Naskah tersebut dimikrofilm ulang oleh tim yang dipimpin Edi S. Ekadjati (1994/1995)[7] dan Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta menyimpan 4 naskah. Pun, dijumpai naskah-naskah, yang sebagiannya telah dimikrofilm ulang, koleksi pribadi di Bandung, Sumedang, Cirebon, Majalengka, dan Tasikmalaya.

Naskah Sejarah Sunan Gunung

Naskah Sunan Gunung Jati Dalam Bentuk Prosa:

Banyaknya naskah lama yang membicarakan tokoh Sunan Gunung Jati berbentuk carita, sajarah, dan babad[8] menunjukkan bahwa cerita tentang tokoh Sunan Gunung Jati merupakan karya sastra sejarah yang pernah digemari oleh masyarakat dan pernah populer di kalangan masyarakat Cirebon dan Priangan. Bahkan, teks dari naskah-naskah yang berisi cerita Sunan Gunung Jati acapkali diyakini sebagai teks sejarah karena berisi sejarah, silsilah, serta riwayat zaman dulu[9], apalagi teks tersebut berkaitan erat dengan tokoh suci (wali), yakni Sunan Gunung Jati. Naskah-naskah ini dianggap oleh sebagian masyarakat, kalangan pesantren, bahkan kalangan keraton Cirebon sekarang sebagai karya sejarah yang benar dan dipandang berisi uraian tentang fakta dan data yang sungguh-sungguh telah terjadi[10].

Dalam naskah-naskah tradisi Cirebon, cerita tentang Sunan Gunung Jati ada yang berbentuk prosa dan ada pula yang berbentuk tembang. Ada tiga naskah yang berbentuk prosa yang di dalamnya memuat cerita tentang Sunan Gunung Jati, yaitu Carita Purwaka Caruban Nagari (Atja), Babad Tanah Sunda (Sulaeman Sulendraningrat), dan Sajarah Cirebon (H. Mahmud Rais).

Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN)

Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN)[11] ditemukan di Indramayu dan dijual orang karena pemiliknya baru saja meninggal, sedangkan keluarganya sangat membutuhkan uang. Naskah ini dibeli oleh Pangeran Sulaeman Sulendraningrat (Atja, 1986: 10). Pada awalnya, naskah CPCN adalah milik keraton Cirebon yang berada di luar keraton pada awal abad sembilan belas[12]. Pada 1972, naskah CPCN kembali menjadi milik keraton Cirebon (Sulendraningrat, 1972: 7-8) kembali, dan sekarang menjadi koleksi Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga” Bandung[13].

Teks CPCN ditulis dengan aksara Jawa, berbentuk prosa, di atas kertas Eropa, tetapi tidak mengunakan watermark, berukuran 20,5 x 26,5 cm dengan ruang tulisan berukuran 18,5 x 24 cm. Naskah ini dijilid dengan bahan yang terbuat dari karton yang dibungkus kain belacu hitam yang keadaannya sudah rusak. Setiap halaman terdiri atas 14 larik bernomor halaman dengan angka tulisan Jawa yang di sampingnya terdapat angka Arab (masih terlihat baru). Pada halaman pertama, tertulis judul naskah Purwaka Caruban Nagari dan pada halaman terakhir (106) terdapat kalimat hana pwa Carita Purwaka Caruban Nagari (ini adalah cerita asal-mula negeri Cirebon). Pada bagian kolofon, terdapat penjelasan yang menyatakan bahwa naskah CPCN ditulis oleh Pangeran Arya Carbon pada 1720 yang digubah berdasarkan buku Nagarakretabumi[14] (Atja, 1986: 8-10). Hingga kini, naskah CPCN belum ditemukan rangkapannya karenanya tergolong sebagai naskah tunggal (unicum).

Bagian satu merupakan bagian pembukaan. Kalimat yang tertera pada bagian pembukaan adalah “Dibuka dengan ucapan syukur kepada Yang Maha Pencipta, selanjutnya dikemukakan maksud penyusunan karangan, yakni memaparkan perihal asal-mula jadi negeri Cirebon. Meskipun pada mulanya menemui kesulitan, namun tetap diusahakannya supaya menjadi pengetahuan orang banyak”.

Bagian kedua sampai bagian tiga puluh delapan berisi uraian tentang proses pembangunan kerajaan. Disebutkan bahwa, saat awal berdiri, Cirebon berada di bawah kekuasaan Susuhunan Jati Purba Wisesa—salah seorang wali di pulau Jawa—yang dikukuhkan menjadi panetep panatagama Islam (pemimpin dan penyebar agama Islam) di wilayah Sunda. Ia menjalankan pemerintahan di istana Pakungwati bersama uaknya, Pangeran Cakrabuwana, yang bergelar Sri Mangana. Uaknya itu menjadi kuwu Cirebon kedua, selain sebagai manggala (panglima angkatan bersenjata). Pada awalnya, nama Cirebon adalah Sarumban, lalu diucapkan Caruban, dan akhirnya Carbon (Cirebon). Para wali menyebutnya puser bumi (negeri yang ada di tengah-tengah pulau Jawa), sementara penduduk pribumi menyebutnya Nagari Gede yang lama kelamaan diucapkan Garage dan kemudian menjadi Grage.

Bagian tiga puluh delapan berisi daftar tentang nama para pembesar Cirebon yang tengah berkumpul untuk  mengadakan persiapan menyerang Rajagaluh. Di bangsal Keraton Pakungwati, hadirlah para pembesar dan wali di Jawa, panglima perang (senapati), dan pemimpin wilayah. Mereka adalah Pangeran Trenggono, Sultan Demak, Susuhunan Kalijaga, Susuhunan Giri atau Susuhunan Dalem, Haji Abdullah Iman, Susuhunan Drajat, Susuhunan Muria, Syekh Duyuskani, Syekh Bentong, Syekh Majagung, Pangeran Luhung, Pangeran Welang, Pangeran Kejawanan, Syekh Magelung, Pangeran Sabakingkin, Pangeran Cirebon, Pangeran Pasarean, Pangeran Jagasatru, Pangeran Cucimanah, Dipati Suranenggala, Tumenggung Jagabaya, Tumenggung Jaya Orean, Buyut Gresik, Ki Gede Jatimerta, Ki Gede Babadan, Ki Gede Mundu, Ki Gede Ujunggebang, Ki Gede Sura (Ki Gede Tegalgubug), Ki Gede Japura, Ki Gede Ender, Ki Gede Buntet, Ki Gede Selapandan, Ki Gede Trusmi, Ki Gede Luragung, Dipati Arya Kuningan, Dipati Anom, Dipati Cangkuang, Dipati Sukawiyana, Dipati Selanunggal, Ki Waruanggang, Padillah, Ki Gede Tedeng, Ki Gede Tameng, Ki Anggaraksa, Ki Gede Paluamba, Raden Sepat, Dipati Keling, Pangeran Raja Laut, Ki Gede Sembung, dan Pangeran Makdum.

Bagian tiga puluh Sembilan yang merupakan bagian penutup berisi informasi tentang penulisan naskah CPCN yang ditulis pada halaman 106 baris tiga sampai delapan. “… adapun Carita Purwaka Caruban Nagari ditulis oleh saya, Pangeran Arya Carbon pada tahun Belanda (Masehi) seribu tujuh-ratus dua puluh genap, kerabat Istana Kasepuhan digubah menurut Kitab Negarakretabhumi” (Atja, 1986: 190).

Babad Tanah Sunda (BTS)

Naskah kedua adalah Babad Tanah Sunda yang disusun oleh Pangeran Sulaeman Sulendraningrat. Pada 1982, Pangeran Sulaeman Sulendraningrat melakukan alih aksara naskah Babad Tanah Sunda berhuruf Arab (Pegon) dan berbahasa Cirebon madya. Ketika penelitian tengah berlangsung (1998-1999), Pangeran Sulaeman Sulendraningrat meninggal (1995) dan tak seorang informan pun—termasuk Sultan Kasepuhan, Pangeran Raja Maulana Pakuningrat—yang dapat menunjukkan keberadaan naskah aslinya. Pada kata pengantar alih-aksara yang dilakukan Pangeran Sulaeman Sulendraningrat dapat diketahui bahwa naskah yang ditulisnya berjudul Babad Cèrbon ditulis dalam huruf Arab (Pegon) dan berbahasa Cirebon madya yang asli (otentik). Ia mengemukakan:

Ingkang kasuguhakèn dhatèng sèratan puniki sèratan sinanggurit saking Babad Cèrbon aksara Pegon/aksara Arab, basa Cèrbon madya ingkang asli/otentik. Sagèda manpangat andadosakèn cèpèngan kangge nèngah-nèngah Babad Tanah Sunda, atawa Babad Cèrbon ingkang simpang siur sajarejare akibat Nusantara/Indonesia, Pulo Jawa khususi pun kasèlang/kalindih dening Walandi 350 taun[15] (Sulendraningrat, 1982: i).

Sajian alih aksara Pangeran Sulaeman Sulendraningrat (1982) ini berjudul Babad Tanah Sunda berbentuk prosa dan dibagi dalam 46 bagian cerita yang saling berhubungan. Masing-masing cerita diberi judul sesuai dengan isi cerita yang terkandung di dalamnya.

Uniknya, ada bagian yang menceritakan pengambilan keputusan dengan lebih dulu melakukan ritual shalat. Bagian yang dimaksud adalah bagian empat puluh lima, yang diiberi judul Sunan Jati Purba Shalat Khajat Dongakakèn Anak Putu/Rakyat Indonesia (Sunan Jati Purba shalat hajat dan mendoakan anak cucu rakyat Indonesia). Bagian ini menceritakan kegelisahan Sunan Gunung Jati mendengar perkataan Syekh Lemahabang yang memperkuat pernyataan Kèndi Pèrtula ketika ia meminum air kendi tersebut hanya setengahnya bahwa suatu ketika akan datang penjajahan bagi rakyat Cirebon. Karenanya, Sunan Gunung Jati segera melakukan salat hajat memohon agar anak cucunya (rakyat Indonesia) jangan sampai ditimpa bencana besar. Selesai salat, ia mendapatkan sebuah keris yang diberi nama Jimat Pasalatan. Setelah itu, ia memerintahkan para empu untuk membuat tujuh buah keris. Setahun kemudian, selesailah keris pesanannya dan diberi nama Kaki Panuding, Kaki Langlang Kewu, Kaki Kunci, Kaki Kalabrama, Kumendung, Samber Nyawa, dan Panuwèk.

Sajarah Cirebon

Naskah ketiga adalah naskah Sajarah Cirebon karya H. Mahmud Rais. Naskah ini berbentuk buku cetak berhuruf Arab koleksi Museum Negeri Jawa Barat No. 07.6 berukuran lebar 15,5 cm dan panjang 20 cm dengan ruang tulisan berukuran lebar 13,5 cm dan panjang 17,5 cm. Naskah ini dicetak di atas kertas stensil dengan huruf Arab Pegon, berbentuk prosa, dan berbahasa Jawa. Naskah ini terdiri atas sembilan jilid yang digabung dalam satu buku dengan ketebalan masing-masing jilid: jilid pertama 25 halaman, jilid kedua 23 halaman, jilid ketiga 25 halaman, jilid keempat 23 halaman, jilid kelima 55 halaman, jilid keenam 25 halaman, jilid ketujuh 26 halaman, jilid kedelapan 23 halaman, dan jilid kesembilan setebal 23 halaman.

Di setiap jilid (sampul) buku tertulis Sajarah Cirebon jilid … dipun susun dening Haji Mahmud Rais Cirebon[16] dengan huruf Arab. Pada jilid pertama, kalimat pembuka diawali dengan ucapan syukur ke hadirat Allah Swt. yang diawali dengan kalimat: “Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi robbil ‘alamin wassolatu wassalamu ala asrofil mursalin, sayyidina muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabihi wa azwajihi waddurriyyatihi wa ahli baitihi ajmain, amma ba’du”[17]. Kalimat pembuka dengan nada seperti ini terdapat pada setiap jilid.

Pada jilid satu “Sajarah Cirebon” diceritakan tentang pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Ratu Subang Keranjang serta kisah perjalanan Walangsungsang dan Rarasantang mencari hakikat agama Islam. Jilid pertama buku ini ditutup dengan kalimat tammat; wallahu’alam bishowab, serta sebuah pesan yang berbunyi; apabila engkau berhajat akan menghadapi seorang kikir, atau orang yang congkak, atau orang yang mempunyai utang yang dikhawatirkan akan berbuat jahat, bacalah sebuah doa yang artinya:

“Wahai Tuhan, Engkau yang Mahamulia dan Mahabesar dan saya adalah hamba-Mu yang rendah dan lemah yang tidak berkekuatan apa-apa melainkan dengan pertolongan-Mu. Wahai Tuhan tundukkanlah kepada saya (si fulan) seperti engkau menundukkan Firaun terhadap Nabi Musa As. Lunakkanlah hatinya seperti engkau telah melunakkan besi terhadap Nabi Daud As. Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu melainkan dengan seizin-Mu. Nyawanya ada dalam genggaman-Mu, dan hatinya ada dalam kekuasaan-Mu. Agunglah pemuji terhadap-Mu wahai zat yang lebih belas kasihan”.

Sementara itu, jilid sembilan menceritakan sayembara yang memperebutkan Putri Panguragan. Jilid sembilan ini diakhiri oleh kalimat tammat wallahu ‘alam bishowab.

Cerita Sunan Gunung Jati Dalam Naskah-Naskah Cirebon Berbentuk Tembang:

Ada empat naskah tradisi Cirebon berbentuk tembang yang mengisahkan Sunan Gunung Jati, yakni Carub Kanda (koleksi Salana), Babad Cerbon (karya Brandes), Babad Cirebon (S.Z. Hadisucipto), dan Wawacan Sunan Gunung Jati (Emon Suryaatmana dan T.D. Sudjana).

Naskah Carub Kanda

Naskah Carub Kanda adalah naskah koleksi Salana yang bertempat tinggal Desa Jemaras Lor, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon. Naskah ini diberi judul Carub Kanda  dan ditulis pada 1260 Hijriyah[18] sebagaimana tertulis pada pupuh pertama bait kedua yang berbunyi: “Kèsmaraning ingkang anulis, anyèrat sagunging sèjarah, Carub Kanda ing namane, angetang ing titi mangsa, Hijrah Nabi waktu nyèrat, sewu rong atus puniku, punjule sawidak warsa, keinginan penulis, menulis sejarah, Carub Kanda namanya, dihitung mulai, Hijrah Nabi waktu menulis, seribu dua ratus lebih enam puluh”.

Tebal naskah berjumlah 132 halaman dan dua halaman tambahan. Penomoran halaman dimulai dari nomor empat yang ditulis di bagian tengah  atas. Lembar naskah yang dapat dibaca mulai dari halaman pertama hingga 115 (pada naskah nomor 119). Setelah itu, tidak dapat dibaca secara utuh karena halaman naskahnya tinggal sepotong-sepotong dan robek-robek. Karangan di dalamnya yang dapat dibaca terdiri atas 49 pupuh atau 969 bait dengan menggunakan 10 macam pupuh: Dangdanggula, Kinanti, Kasmaran (Asmarandana), Megatruh (Magatru), Balakbak, Menggalang, Sinom, Pangkur, Durma, dan Madengda.

Pupuh satu berbentuk kasmaran, yang terdiri dari 15 bait. Diawali oleh kalimat Bismillahir rohmanir rohim lalu memuji Allah, para nabi, dan para wali. Dikemukakan pula maksud penulisan Carub Kanda, yakni untuk diketahui tentang sejarah para wali yang ada di Pulau Jawa, serta tata tertib membaca naskah, antara lain, harus suci dan mempunyai wudu.

Naskah Carub Kanda ditutup oleh pupuh terakhir, yaitu pupuh keempat puluh sembilan. Pupuh terakhir ini berbentuk madengda, yang terdiri dari 14 bait. Pupuh ini menceritakan tentang sepak terjang Pangeran Arya Kuningan dan Dipati Kiban yang melanjutkan pertempurannya, saling dorong, saling hantam, tak ada yang mau kalah. Tersebutlah, seorang waliyullah, ia ingin sekali mengakhiri pertempuran antara Arya Kuningan dengan Dipati Kiban. Namun, cerita pada naskah Carub Kanda yang berhasil dibaca berakhir pada pupuh ke-49 karena bagian naskah berikutnya tidak dapat dibaca lagi karena rusak.

Naskah Babad Cèrbon Brandes

Naskah kedua adalah Babad Cèrbon yang diterbitkan oleh Brandes. Naskah ini diambil dari dua buah naskah yang dikumpulkan oleh J. L. A. Brandes sendiri yang dalam koleksinya diberi nomor 36 dan 107 (Brandes, 1911: 4). Kini, kedua naskah tersebut tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta dengan nomor (kode) Br. 36 dan Br.107 (Daftar Naskah Perpustakaan Nasional, 1992).

Babad Cêrbon terdiri atas 559 bait dan dua bait tambahan. Kelima lima ratus enam puluh satu bait itu terbagi atas 36 bagian. Pembagian itu didasarkan pada jenis pupuh yang digunakan. Jumlah bait tiap pupuh tidak sama, berkisar antara 9 hingga 24 bait. Ada 10 jenis pupuh yang digunakan dalam naskah ini: Dangdanggula, Sinom, Kinanti, Asmarandana, Pangkur (Pangandang Kutuk), Mijil, Durma, Pucung, Megatruh, dan Ladrang. Kesepuluh pupuh tersusun secara berurutan seperti di atas dan berputar hingga tiga kali. Pada putaran keempat pupuhnya hanya sampai pada nomor urut enam (Mijil) karena ceritanya tamat, dan dua bait bagian tambahan menggunakan pupuh Asmarandana.

Dalam naskah ini terdapat dua buah catatan yang menerangkan tentang penulisannya. Catatan pertama terletak pada halaman tiga, sebelum cerita Babad Cêrbon dimulai yang ditulis dalam huruf Latin dan berbahasa Sunda yang berbunyi.

Bandung den 16 Maart 1877. Ije noe gadoeh wawatjan Atmadja, oerang Astanaanjar nagri. Ari noe njien Moertasiah, oerang Tjitjendo. Ari anggesna didjien dina poe Kemis wantji poekoel 12 tengah peting dina boelan Sapar tanggal 30, 1293. Adimadja. Ari boelan Walanda Maart tanggal 16 taoen 1877, Bandung, tanggal 16 Maret 1877. Yang memiliki wawacan, Atmaja, penduduk Astanaanyar. Yang membuatnya Murtasiah, penduduk Cicendo. Selesai dibuat pada hari Kamis pukul 12 tengah malam pada bulan tanggal 30 Sapar 1293 (H). Atmadja. (Bertepatan) dengan bulan Belanda (Masehi) tanggal 16 Maret 1877.

Naskah Br. 36 diterbitkan oleh Brandes disertai perbandingan dengan naskah Br. 107. Dalam perbandingan itu, terdapat beberapa perbedaan yang disimpan pada catatan kaki. Perbedaan-perbedaan itu berupa kekurangan atau kelebihan kata atau kalimat, perubahan kata atau sukukata dan kemungkinan kesalahan tulis. Tetapi, pada umumnya, teks Babad Cêrbon dalam kedua naskah itu sama sehingga dapat dipastikan bahwa kedua naskah itu berasal dari satu induk yang sama, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Cerita Babad Cêrbon terbitan Brandes terdiri dari tiga puluh enam pupuh. Pupuh kesatu berbentuk dangdanggula dengan 9 bait. Pupuh ini diawali oleh pembukaan yang berisi puji-pujian terhadap Allah dan Nabi Muhammad (bait 1 dan 2). Selanjutnya, diceritakan permaisuri Pajajaran yang berasal dari negeri Singapura yang berputra tiga: Raja Cakrabuana, Raja Sengara, dan Nyi Dalem Santang. Nyi Dalem Santang ini adalah ibu Sunan Gunung Jati.

Pada pupuh terakhir, yaitu pupuh ketiga puluh enam yang berbentuk Mijil, dan terdiri dari 11 bait, mengisahkan tentang tahun meninggalnya Panembahan Ratu yang dikuburkan di Girilaya pada 1585, sementara waktu berdirinya Sultan Kasepuhan dan Kanoman adalah 1600.  Pupuh ini diakhiri dengan kalimat tammat, wallahu a’lam bi showab.

Naskah Babad Cerbon Hadisutjipto

Naskah ketiga adalah Babad Cerbon yang diterbitkan oleh S.Z. Hadisutjipto. Pada 1979, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah menerbitkan naskah Babad Cirebon hasil alih aksara yang dilakukan S. Z. Hadisutjipto.

Sesungguhnya, naskah Babad Cirebon yang dialihaksarakan oleh Hadisutjipto ini milik Taryadi Tjokrodipuro—seorang perwira menengah ABRI asal Magelang yang telah menetap di Jalan Klayan 65 Cirebon sejak 1950-an yang kemudian disebut Naskah Klayan. Naskah ini terdiri dari 860 bait yang terbagi dalam 43 pupuh. Informasi yang lengkap mengenai naskah ini tidak ditulis dalam alih aksara yang dilakukan S. Z. Hadisutjipto sehingga tidak diperoleh informasi mengenai asal-usul dan kondisi fisik naskah. Penulis mencoba menelusuri naskah ini ke rumah Taryadi Tjokrodipuro di Jalan Klayan 65 Cirebon pada Juli 1999—dua puluh tahun setelah Hadisutjipto menerbitkan naskah ini—dan tidak memperoleh informasi yang jelas karena pemilik naskahnya telah meninggal.

Pupuh satu, sebagai pembuka yang berbentuk dangdanggula, dan terdiri dari 13 Bait, diawali oleh kalimat bismilâhir rahmânir rahîm. Pupuh ini menceritakan lolosnya Walangsungsang—putra Prabu Siliwangi—yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad Saw. Walangsungsang—yang juga putra mahkota Kerajaan Pajajaran—berkeinginan untuk berguru agama Nabi Muhammad. Lalu, ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya, Prabu Siliwangi. Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana. Suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Ia menuruti panggilan mimpi untuk berguru agama nabi (Islam) kepada Syekh Nurjati, seorang pertapa asal Mekah di Bukit Amparan Jati Cirebon. Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati, Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Sang Danuwarsi.

Pupuh terakhir adalah pupuh keempat puluh tiga yang berbentuk pangkur, dan terdiri dari 10 bait. Pupuh ini menceritakan saat pasukan Cirebon terdesak mundur, Ki Kuwu Sangkan masih tetap bertafakur di Gunung Panawarjati. Ia menyesal karena telah mendahului kehendak kemenakannya, Sunan Jati. Tiba-tiba, ia mendengar suara yang berasal dari sebatang pohon randu yang isinya menyatakan bahwa ia telah dimaafkan oleh kemenakannya dan diminta supaya segera membantu pasukan Cirebon yang sedang terdesak.

Naskah Wawacan Sunan Gunung Jati (WSGJ)

Naskah Wawacan Sunan Gunung Jati (WSGJ) diterbitkan oleh Emon Suryaatmana dan T. D. Sudjana. Naskah ini diterbitkan pertama kali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta pada 1994 melalui Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah 1993/1994. Naskah ini ditemukan di daerah Pamanukan, Kabupaten Subang, milik seorang penduduk bernama Acim (65 tahun) seorang pensiunan pegawai pengairan di Pamanukan. Pemiliknya tidak berani menyimpan naskah di rumahnya karena takut kabadi (mendapat musibah buruk). Karena itu, naskah ini disimpan di rumah seorang dukun bersama benda-benda keramat lainnya seperti keris, tombak, golok, dan pakaian tua yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

WSGJ terdiri atas 49 pupuh. Pupuh yang digunakan adalah Dangdanggula, Sinom, Magatru, Kinanti, Asmarandana (Kasmaran), Balakbak, Durma, Pucung, Pralambang (Lambang), Mijil, Pangkur, Tuhrare, dan Toyamas. Pupuh Tuhrare dan Toyamas  adalah pupuh khas Cirebon. Pada umumnya, setiap pupuh dibentuk oleh aturan-aturan baku yang disebut guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan.

Pada garis besarnya, isi cerita WSGJ terdiri atas tiga bagian: pertama dan kedua, menceritakan Sunan Gunung Jati sebagai tokoh sentralnya; ketiga, cerita yang terpisah dari tokoh sentral. Bagian pertama terdiri atas sepuluh pupuh dan berjumlah 157 bait, bagian kedua terdiri atas 32 pupuh, dari pupuh sebelas hingga empatpuluh dua dengan jumlah bait 663; sementara bagian ketiga terdiri atas tujuh pupuh, dari pupuh empatpuluh tiga hingga pupuh empatpuluh sembilan dan berjumlah 147 bait.

Pupuh satu yang berbentuk dangdanggula, dan terdiri dadri 16 bait menceritakan tentang perjalanan hidup Walangsungsang adalah putra Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran) yang dicadangkan sebagai raja (putra mahkota) untuk menggantikan ayahnya kelak bila ia sudah meninggal. Sebagai putra mahkota, tentu saja, Walangsungsang harus memiliki berbagai macam ilmu untuk bekal nanti bila ia telah diberi kekuasaan memegang tampuk pemerintahan. Untuk itu, ia terus berguru kepada beberapa pendeta dan ulama. Dalam mencari ilmunya itu, ia lebih tertarik pada ajaran Islam, dan dalam mimpinya, ia bertemu dengan Syekh Nurjati yang menyuruhnya mencari seorang ulama Islam dan berguru ilmu Rasulullah. Lalu, Walangsungsang mengutarakan keinginannya kepada ayahandanya. Namun, ayahnya memarahi dan mengusirnya dari keraton. Lalu, Walangsungsang melarikan diri dari istana dan mengembara ke berbagai tempat hingga akhirnya ia bertemu dengan Syekh Danuwarsih.

Pupuh empat puluh enam, yaitu pupuh terakhir yang berbentuk kinanti, dan terdiri dari 22 bait. Dalam pupuh ini dikisahkan bahwa Syekh Abdurakhman terus memandangi gambar sang putri hingga ia meninggal dunia. Dari belakang, adiknya menghampirinya dan terlihat olehnya bahwa kakaknya sudah menjadi mayat. Secara tiba-tiba, ia melihat seorang kakek yang badan dan hidungnya menjijikkan sedang bernyanyi dengan suara yang sangat merdu. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa semua orang yang datang ke tempat itu akan jatuh cinta melihat gambar sang putri, dan akhirnya akan mati. Di tempat gambar tersebut, banyak manusia mati bergeletakan dan sudah menjadi bangkai. Dialah sebenarnya Kiyai Pengantin penunggu gambar sang putri. Perlu diketahui bahwa bagian ini belum selesai karena sebagian naskahnya hilang dan merupakan bagian akhir dari keseluruhan cerita naskah WSGJ terbitan Emon Suryaatmana dan T. D. Sudjana.

Perbandingan Bentuk, Isi, Dan Episode Cerita Sunan Gunung Jati

Penulis cerita Sunan Gunung Jati dalam naskah-naskah tradisi Cirebon berasal dari dua lingkungan, istana dan pesantren. Naskah yang ditulis oleh penulis istana (untuk sementara ini) hanya ditemukan satu naskah, yakni CPCN yang ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon[19]. Naskah yang berasal dari lingkungan pesantren diketahui ada enam naskah: BTS, SC, CK, BC-Br, BC-Hs, dan WSGJ. Naskah jenis kedua ini berjumlah lebih banyak karena tergolong bersifat profan sehingga tradisi (penurunan) naskah lebih terbuka sehingga memungkinkan banyak ditemukan naskah yang seversi.

Berdasarkan bentuknya, naskah-naskah yang berisi cerita Sunan Gunung Jati dalam tradisi Cirebon yang dibahas buku ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok naskah: naskah yang ditulis dalam bentuk prosa dan tèmbang. Kelompok naskah berbentuk prosa terdiri dari CPCN, BTS, dan SC, sedangkan naskah berbentuk tèmbang terdiri dari BC-Br, CK, BC-Hs, dan WSGJ. Meskipun naskah kelompok pertama (CPCN, BTS, dan SC) disajikan dalam bentuk prosa, namun gaya penyajiannya berbeda-beda antara satu dan lainnya. Naskah CPCN disajikan dalam bentuk cerita naratif tanpa ada pembatas antara satu cerita dan cerita lainnya; SC disajikan dalam sembilan jilid buku yang berisi beberapa episode dalam satu jilid buku; dan BTS disajikan berdasarkan episode yang pada setiap episode diberi judul tersendiri dari 47 episode.

Berdasarkan isi dan episode cerita Sunan Gunung Jati, naskah berbentuk prosa dan tembang mempunyai persamaan satu sama lain. Perbedaan-perbedaan yang muncul lebih disebabkan oleh variasi dari lengkap-tidaknya cerita, serta utuh-tidaknya naskah. Naskah CPCN merupakan naskah yang berbeda dengan naskah lainnya dilihat dari kuantitas dan isi cerita yang cukup singkat sehingga menjadikannya versi tersendiri. Meskipun jenisnya berbeda, antara naskah SC dan BTS yang berbentuk prosa dengan naskah CK, BC-Br, BC-Hs, dan WSGJ yang berbentuk tembang memiliki kuantitas dan isi cerita yang hampir sama sehingga naskah-naskah tersebut diduga berada dalam versi yang sama.

Berdasarkan isi dan episode cerita dapat diketahui beberapa persamaan cerita yang tidak terlalu banyak antara CPCN dan naskah-naskah lainnya, yakni lima episode cerita dari delapan bagian cerita.

  1. Pembukaan, bagian ucapan syukur kepada Allah.
  2. Kisah pengembaraan Ws dan Rs pada bagian cerita pelarian Ws dan Rs dari Keraton Pakuan Pajajaran; pertemuan antara Ws dan Rs di Gunung Merapi; pernikahan Ws dengan Nyi Indang Geulis; Ws berguru agama Islam kepada Syekh Nurjati; Ws membuka pedukuhan di Kebon Pesisir; dan perjalanan Ws dan Rs menunaikan ibadah haji.
  3. Pernikahan Rs dengan Syarif Abdullah dan lahirnya Syarif Hidayatullah, dengan beberapa persamaan pada cerita pernikahan antara Rs dan Syarif Abdullah; Rs melahirkan Syarif Hidayatullah di Mekah; dan kembalinya Ws (Haji Abdullah Iman) ke tanah Jawa.
  4. Kisah SH berguru agama Islam hanya bagian episodenya dengan jalan cerita yang berbeda.
  5. Kisah Syarif Hidayatullah mengislamkan tanah Jawa hanya pada cerita pernikahan Syarif Hidayatullah dengan Nyi Babadan dan Nyai Kawunganten, serta pengukuhan SH sebagai Panètèp Panatagama.

Tentang episode dan pembabakan cerita yang banyak ditampilkan oleh setiap naskah dalam tradisi Cirebon sebagai berikut:

  1. Pembuka cerita, tidak semua naskah menyajikan kata-kata atau pupuh pembuka. Pembuka cerita hanya disajikan pada naskah CPCN, BC-Br, CK, dan SC.
  2. Kisah Pengembaraan Ws dan Rs terdapat pada hampir semua naskah, kecuali BC-Br.
  3. Kisah pernikahan antara Rs dan Sultan Hut (Raja Uttara), raja dari Kerajaan Mesir (Kerajaan Bani Israil) terdapat pada seluruh naskah.
  4. Pengembaraan SH dalam mencari Nabi Muhammad terdapat dalam seluruh naskah.
  5. Kisah Syarif Hidayatullah berguru agama Islam hanya ditampilkan pada BC-Br dan CPCN.
  6. Kisah Syarif Hidayatullah dalam mengislamkan tanah Jawa terdapat pada seluruh naskah.
  7. Kisah Syarif Hidayatullah berkunjung ke negeri Cina terdapat dalam seluruh naskah, kecuali dalam CPCN.
  8. Kisah perang antara (Raja) Galuh dan Cirebon terdapat dalam seluruh naskah, kecuali pada WSGJ dan BC-Br.
  9. Kisah Sunan Kalijaga terdapat dalam seluruh naskah, kecuali SC.
  10. Kisah perdebatan para wali dengan Syekh Siti Jenar tentang hakikat Allah dan pembunuhan Syekh Siti Jenar hanya ditampilkan dalam BTS, WSGJ, dan CPCN.
  11. Kisah tentang kerajaan Demak terdapat dalam hampir seluruh naskah, kecuali SC dan WSGJ. Namun, tidak satu pun naskah yang menam-pilkannya secara utuh, hanya bagian-bagian tertentu dalam episode cerita ini. Naskah yang sama sekali tidak menyajikan episode ini adalah SC dan WSGJ.
  12. Kisah tentang Durakhman dan Durakhim sebagai cerita selingan yang menghiasi cerita Sunan Gunung Jati hanya terdapat dalam WSGJ.

Berdasarkan pengelompokan naskah, perbandingan bentuk, isi, dan episode cerita Sunan Gunung Jati dapat dibuat silsilah naskah sebagai berikut.

Naskah Sejarah Sunan Gunung Jati

Keterangan:

a:Arketip
x,y:Hiparketip
A:CPCN
B:BC-Br
C:SC, BTS
D:CK, BC-Hs, WSGJ

Penutup

Berdasarkan lingkungan penulis, naskah-naskah tradisi Cirebon yang menampilkan cerita Sunan Gunung Jati diketahui berasal dari dua lingkungan penulis yang berbeda: lingkungan istana yang diwakili oleh CPCN karangan Pangeran Arya Cirebon dan karangan ulama yang berasal dari lingkungan pesantren (BC-Br, CK, BC-Hs, WSGJ, SC, dan BTS).

Dari struktur naskah, CPCN, SC, dan BTS ditulis dalam bentuk prosa; sedangkan naskah BC-Br, BC-Hs, CK, dan WSGJ ditulis dalam bentuk puisi (tèmbang). Meskipun naskah SC dan BTS ditulis dalam bentuk prosa, namun lebih kental nuansa keagamaannya. Ini menunjukkan adanya variasi teks yang dilatarbelakangi oleh maksud, tujuan, pandangan hidup, orientasi penulis, dan kemampuan improvisasi penulis dari masing-masing lingkungan.

Berdasarkan isi cerita, perbandingan antara episode CPCN dan BC-Br (apalagi dengan CK, BC-Hs, WSGJ, SC, dan BTS) ternyata memiliki perbedaan yang sangat jauh. Persamaannya hanya terdapat pada bagian cerita yang bersifat umum. Mengenai perbandingan keseluruhan naskah-naskah dalam tradisi Cirebon, naskah CPCN berbeda sama sekali dengan naskah-naskah lainnya (dalam struktur, isi, dan pembobotan cerita). Ini menunjukkan adanya keragaman versi dari naskah-naskah yang berisi cerita Sunan Gunung Jati. Keragaman versi ini lebih berorientasi pada tujuan penulisan dan fungsi naskah dari kedua lingkungan yang berbeda.

Berdasarkan muatan atau isinya, cerita yang disajikan oleh penulis istana berbeda isinya dengan penulis pesantren. Penulis dari kalangan istana lebih mengarah pada cerita yang bersifat rasional, berorientasi pada kepentingan istana, serta legitimasi keturunan dan kekuasaan yang bersumber pada Sunan Gunung Jati. Sebaliknya, penulis pesantren lebih banyak menyajikan unsur-unsur ajaran Islam seperti kisah pengembaraan Syarif Hidayatullah dalam mencari Nabi Muhammad dan perjalanan Syarif Hidayatullah ke langit ketujuh yang disajikan secara lengkap. Pada naskah CPCN, kisah tersebut hanya diuraikan bagian yang terpenting, yakni pada unsur berguru agama Islam, tidak menyajikan kisah cerita Isra Mikraj Nabi Muhammad dan perjalanan Sunan Gunung Jati ke langit ketujuh. Demikian pula pada penambahan cerita, CPCN lebih banyak menampilkan cerita yang berkisar di seputar istana, seperti hubungan Demak dengan Cirebon, silsilah keturunan Sunan Gunung Jati, pembangunan istana, dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan langsung dengan istana. Pada naskah yang ditulis oleh kalangan pesantren lebih berorientasi pada kisah penanaman nilai-nilai keagamaan, perhatian yang sangat besar terhadap kehidupan manusia untuk mencari jalan yang benar, dan penonjolan kisah Sunan Gunung Jati yang “dipersamakan” jalan ceritanya dengan kisah kehidupan Nabi Muhammad. Ini menunjukkan bahwa dari segi isi dan—tentunya—amanat yang ingin disampaikan, penulis lebih menekankan pada tujuan dan fungsi karangannya.

Dari segi tujuan penulisan, naskah yang ditulis oleh kalangan istana lebih cenderung pada legitimasi kekuasaan Sunan Gunung Jati sebagai penegak kekuasaan Islam di Cirebon. Dengan kata lain, gaya tulisan kalangan istana lebih bernuansa politis sebagaimana yang ditunjukkan dalam naskah CPCN, sementara naskah-naskah kalangan pesantren lebih cenderung pada peran Sunan Gunung Jati sebagai penyebar Islam atau lebih bernuansa keagamaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh naskah BC-Br, CK, BC-Hs, WSGJ, SC, dan BTS.

Berdasarkan fungsi naskah, naskah yang ditulis oleh kalangan istana berfungsi sebagai pegangan para sultan, keturunan sultan, kerabat keraton, dan bangsawan istana lainnya karena berisi silsilah, sejarah leluhur, dan atau sejarah daerah Cirebon. Buktinya, baik Sultan Kasepuhan maupun Sultan Kanoman, merujuk silsilah keturunannya pada naskah CPCN. Sebaliknya, naskah-naskah yang ditulis oleh kalangan pesantren berfungsi sebagai alat pendidikan keagamaan dengan menyajikan cerita tentang tokoh agama, para nabi, pepatah-petitih, dan beberapa aspek dari ajaran agama. Ini bisa dilihat dari muatan (isi) naskah yang lebih banyak menyajikan cerita keagamaan, pepatah-petitih, dan kisah Nabi Muhammad. Dalam perkembangan berikutnya (kira-kira hingga pertengahan abad dua puluh), naskah-naskah tersebut tidak hanya mempunyai beragam fungsi utama sebagaimana disebutkan di atas, tetapi juga ditujukan sebagai media menik-mati seni budaya—selain unsur pengetahuan sejarah dan pendidikan—yang disajikan dalam perayaan-perayaan atau hari besar keagamaan (Islam). Naskah-naskah tersebut seringkali dibaca—khususnya—pada bulan Syura (Muharram) dan Maulud (Rabiul Awwal), atau pada perayaan menyambut kelahiran bayi, perkawinan, atau perayaan hari-hari besar lainnya. Seiring dengan perkembangan zaman, fungsi naskah sekarang ini—tepatnya pada awal abad dua puluh satu—tidak lagi berfungsi sebagaimana fungsi-fungsi yang disebutkan di atas. Fungsi utamanya adalah sekadar dokumentasi budaya masa lampau yang berisi informasi mengenai peran Sunan Gunung Jati. Kalaupun naskah-naskah cerita Sunan Gunung Jati difungsikan sebagaimana fungsi semula, hanya terbatas pada masyarakat yang berada di pedesaan yang masih membacakan naskah ini pada upacara-upacara tertentu, dan terbatas pada orang-orang yang mempunyai keyakinan spiritual pada naskah ini.


Referensi

[1] Naskah—dalam karya sastra lama—berarti karya tertulis yang ditulis tangan (manuscript, handschrift). Karya tertulis yang ditik pun asal belum diterbitkan (dicetak) digolongkan sebagai naskah. Sebagai objek penelitian filologi, naskah adalah tulisan tangan yang  menyimpan  berbagai ungkapan  pikiran, perasaan, dan pengalaman sebagai hasil budaya bangsa  masa lampau. Di Indonesia, naskah-naskah banyak ditemukan di  berbagai daerah dengan menggunakan ragam bahasa dan aksara dari berbagai masa dan mengandung sejumlah informasi berharga. Dalam hal ini, naskah-naskah lama dapat memberi sumbangan besar bagi studi tentang suatu bangsa atau kelompok sosial-budaya tertentu yang melahirkan naskah-naskah  itu  (Ekadjati,1982: 5;  Kamus  Besar Bahasa Indonesia, 1989: 610).

[2] Cerita rekaan atau khayalan yang tidak berdasarkan kenyataan.

[3] Bukan sejarawan akademis dan sejenisnya.

[4] Yakni karya sastra yang menceritakan sejarah (asal usul) suku bangsa, negeri, leluhur, serta adat istiadat suatu daerah. Karya sastra sejarah seperti ini disebut historiografi tradisional, yakni penulisan sejarah suatu negeri berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat secara turun-temurun (lihat Kartodirdjo, 1968).

[5] Perbedaan pemberian judul itu dimungkinkan oleh beberapa hal berikut: satu, pemberian judul Babad Cêrbon atau Sajarah Cèrbon didasarkan pada latar atau tempat cerita atau peristiwa itu terjadi, yaitu di Cirebon; dua, pemberian judul Babad/Wawacan Sunan Gunung Jati atau Wawacan Walangsungsang didasarkan atas nama tokoh utama dalam cerita itu, yakni Sunan Gunung Jati dan Walangsungsang; dan ketiga, pemberian judul Sajarah Lampahing  Para Wali Kabeh didasarkan pada apa yang tersurat di dalam teks, yakni kisah para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa (Hermansoemantri, 1984/1985: 12; Ekadjati, ed. 1988).

[6] Antara lain, (1) Naskah Sunda Lama di Kabupaten Sumedang, oleh Abdurrahman, dkk., 1986; (2) Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan, oleh Edi S. Ekadjati (ed.) yang terbit 1988; (3) Daftar Naskah Perpustakaan Nasional Jakarta (Daftar Naskah Sementara), 8 Mei 1992;  (4) Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 1 Museum Sonobudoyo (1990); Jilid 3a-3b, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1997); Jilid 4, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (1998); dan  Jilid 5A, Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga (1999).

[7] Lihat daftar naskah yang sudah dimikrofilm, tidak diterbitkan, Unpad 1995 dan Ekadjati dan Undang Ahmad Darsa (1999) Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 5A; Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga. Adapun mikrofilm naskah-naskah Jawa Barat berjumlah 51 rol.

[8] Babad berarti juga hikayat, riwayat, atau sejarah (Carey, 1981: 305) yang merupakan salah satu jenis karya sastra Jawa (Rochyatmo, 1991: 52) yang memberikan makna sebagai cerita tentang peristiwa yang dipandang telah terjadi (Poerwadarminta, 1939: 23) atau tradisi lokal yang biasanya berisi pengagungan terhadap para raja atau seorang raja tertentu; dapat juga memuat kisah tentang asal-usul suatu kerajaan (Djajadiningrat, 1995: 58). Pada umumnya, babad adalah istilah yang digunakan untuk menyebut salah satu jenis karya sastra di Jawa, Sunda, Bali, dan Lombok yang dipandang banyak mengandung unsur sejarah dengan bahasa daerah masing-masing (Darusuprapta, 1984: 10). Kata babad (atau babat) mengandung arti merambah atau menebang pohon-pohonan di hutan dan memangkas semak belukar (Ras, 1986: 252). Pengertian ini berpengaruh terhadap isi babad pada umumnya yang mengandung cerita yang melukiskan pembukaan suatu daerah atau hutan untuk kemudian didirikan perkampungan yang biasanya menjadi cikal bakal suatu ibukota kerajaan atau pusat pemerintahan; misalnya, cerita pembukaan daerah ibukota Majapahit, Mataram, Kartasura, Yogyakarta, dan Cirebon yang masing-masing terdapat dalam Babad Majapahit, Babad Mataram, Babad Kartasura, Babad Ngayogyakarta, dan Babad Cirebon (Ekadjati, 1978: 1, Darusuprapta, 1984: 10).

[9] Dalam pengertian penyusun dan lingkungan masyarakatnya, babad dianggap sebagai sejarah, yaitu kisah tentang masa lampau atau leluhur mereka (Ekadjati, 1978: 1) yang mempunyai fungsi, antara lain: (1) fungsi sosial-psikologis untuk memperkuat kedudukan dan melegitimasikan kekuasaan dinasti, raja, atau bupati yang sedang memerintah karena raja atau bupati menempati posisi sentral di wilayah kekuasaannya, kerajaan atau kabupaten, sehingga dalam historiografi tradisional mereka ditempatkan sebagai tokoh sentral atau tokoh utama. Ini mencerminkan pandangan raja sentris, istana sentris, atau kabupaten sentris dalam arti segalanya berpusat pada atau membicarakan tentang raja, istana, atau kabupaten; (2) fungsi edukatif (pendidikan) dengan maksud agar generasi kemudian dapat mengenali masa lampaunya; (3) fungsi magis yang dimaksudkan agar memperoleh kesaktian atau kekuatan gaib karena seorang pujangga yang bertugas (atau berprofesi) menulis babad pada hakikatnya melakukan pekerjaan magisastra (Berg, 1974: 14-15); dengan menulis kisah rajanya, ia memberikan tambahan kekuatan gaib kepada raja yang “memesan” karyanya; juga memberi kesaktian dan kekuatan gaib kepada penulisnya; dan (4) sebagai (benda) pusaka, artinya dengan menyimpan naskah-naskah, khususnya naskah babad, dianggap memiliki kekuatan gaib sehingga naskah-naskah itu disimpan sebagai azimat atau barang pusaka (Lubis, 1991: 16-17).

[10] Ini terlihat dari pengakuan Pangeran Sulaeman Sulendraningrat bahwa naskah Babad Cirebon  adalah naskah sejarah Cirebon asli yang otentik. Pernyataan ini muncul ketika ia menerbitkan terjemahan satu naskah Babad Cirebon berhuruf  Pegon dan  berbahasa  Cirebon ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sedjarah Tjirebon Asli (1968) yang kemudian dicetak ulang pada  tahun 1984  dengan judul Babad Tanah Sunda: Babad  Cirebon.

[11] Purwaka Caruban Nagari berarti asal-usul alias asal mula negara Cirebon. Purwaka Caruban Nagari adalah nama dari naskah  yang ditulis pada 1720 M oleh Pangeran Arya Carbon (Cirebon)—salah seorang keluarga keraton di Cirebon yang diberi tugas oleh Gubernur Jenderal Kompeni untuk mengkoordinir para Bupati Priangan.

[12] Kemungkinan terjadi pada awal 1800-an—saat di Cirebon meletus pemberontakan menentang penjajahan Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Raja Kanoman dari Keraton Kanoman dan dibantu oleh panglima-panglimanya, antara lain, Ki Arsitem, Ki Bagus Serit, dan Ki Bagus Rangin.

[13] Naskah CPCN merupakan karya tulis yang disusun berdasarkan sumber Pustaka Nagarakretabhumi yang disusun oleh tim Pangeran Wangsakerta. Sejak 1964, satu demi satu naskah-naskah Pangeran Wangsakerta ditemukan kembali melalui hubungan kekeluargaan keraton Cirebon. Lalu, naskah-naskah ini menjadi koleksi Museum Negeri Jawa Barat melalui transaksi penjualan oleh penemunya, antara lain Ading dan Mohamad Asikin di Cirebon (Atja dan Ayatrohaedi, 1986: 2; Ekadjati, dkk.1988: 167-181).

[14] Teks kolofon berbunyi: hana pwa Carita Purwaka Caruban Nagari/tinulis de ning wang Pangeran Arya Carbon ing warsa ning walandi sahasra pitungatus rowangdasa jejeg/kadang dalem kasepuhan sinanggurit miturut kitab Nagarakretabumi (Adapun Carita Purwaka Caruban Nagari ditulis oleh Pangeran Arya Carbon, pada 1720 tahun Belanda (Masehi), warga keraton Kasepuhan, digubah berdasarkan buku Nagarakretabhumi.

[15] Adapun yang disajikan dalam tulisan ini adalah tulisan yang berasal dari huruf Pegon/huruf Arab berbahasa Cirebon madya yang asli [otentik]. Semoga bermanfaat sebagai pegangan untuk  menengahi Babad Tanah Jawi dan Babad Cirebon yang simpang siur akibat Nusantara/Indonesia, khususnya pulau Jawa dijajah oleh Belanda 350 tahun.

[16]Sejarah Cirebon” disusun oleh Haji Mahmud Rais (dari) Cirebon.

[17] . Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada semulia-mulia utusan; Nabi Muhammad Saw. beserta keluarganya, para sahabatnya, istrinya, keturunannya, dan ahli bait semuanya

[18] Tahun 1260 Hijriyah menurut konversi Program Komputer Gregorian Conventer dari Abel A.Al-Rumaih 1996-1997 bertepatan dengan 1844 Masehi.

[19] Ketiadaan naskah lain dapat diduga karena adanya konsepsi sejarah pètèng, sejarah yang sengaja ditutupi karena berbagai hal.

Prof. Dr. Dadan Wildan Anas M. Hum

Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan, Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Guru Besar Sejarah. Sekretaris Penasehat PP Persis. Ketua Ikatan Alumni Pendidikan Sejarah FPIPS UPI. Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga IKA UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donec Aliquam eleifend consectetur velit, justo lectus odio