Naskah Hikayat Nur Muhammad

Sebagai Sejarah Penyebaran Tasawuf di Lampung

Naskah Kuno merupakan endangered archive, keberadaannya sangat rentan sekali dengan kerusakan, apalagi jika kita lalai terhadap perlindungan dan pemeliharaan naskah kuno tersebut. Sudah banyak kabar yang menyatakan bahwa naskah kuno mengalami kerusakan oleh pemiliknya karena kelalaian dan kekurangtahuan mengelolanya sehingga sebuah sejarah yang tertuliskan kemudian lenyap. Juga tak jarang yang rela untuk menjualnya kepada pihak asing, karena harganya yang menggiurkan apabila dibandingkan dibeli oleh museum atau perpustakaan milik pemerintah.

Pada tahun 2010, telah ada Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010, yang merupakan pengganti untuk UU Cagar Budaya Tahun 1992. Yang dimaksud Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. Naskah kuno atau manuskrip, dapat dikatakan sebagai benda cagar budaya. Memang tidak secara jelas dan spesifik bahwa naskah kuno merupakan benda cagar budaya, yang dikatakan sebagai benda cagar budaya, kriterianya adalah sebagai berikut:


  1. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
  2. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
  3. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan
  4. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Lampung, sebagai sebuah wilayah yang juga memiliki benda cagar budaya, diantaranya benda cagar budaya tersebut adalah naskah kuno Lampung. Bagaimana lalu lintasnya manuskrip tersebut bisa berpindah, orang Inggris pun membagi kerja kolektor ini menjadi bangsawan kolektor dan kolektor yang merupakan pejabat pada East India Company. Catatan museum Lampung tentang naskah Lampung yang tertua ternyata berada di perpustakaan Bodleian. Naskah tersebut adalah Hikayat Nur Muhammad. Hikayat Nur Muhammad dalam aksara Lampung ini berada di perpustakaan Bodleian sejak dihibahkan tahun 1630 oleh kolektor naskah dari Inggris.

Annabel Teh Gallop juga menyatakan hal yang senada, hal ini karena beberapa sastra Melayu yang merupakan salinan, maka nama penyalinnya kadang tidak dicantumkan, bahkan juga tidak bertanggal, dan seringkali satu-satunya tanda usia sebuah naskah adalah tanggal saat naskah itu menjadi koleksi sebuah perpustakaan. Oleh karena itu, Hikayat Nur Muhammad dalam aksara Lampung oleh perpustakaan Bodleian penghitungan umurnya berdasarkan penanggalan pada saat koleksi tersebut masuk menjadi koleksi perpustakaan tersebut.

Sedangkan menurut H. Overbeck (1933) yang dikutip Shaleh Saidi (2003:89), bahwa sastra Melayu ini penyalinannya melalui perubahan sekehendak hati, tidak jarang menulis hanya yang diingat saja, jika tidak bisa dilanjutkan maka diberi tamat saja. Hal ini disebabkan pekerjaan menyalin ini merupakan kesenangan saja.

Penyebaran Islam di nusantara terdapat berbagai teori, salah satunya adalah penyebaran Islam melalui Tasawuf oleh Ulama Sufi, penyebaran agama Islam melalui Tasawuf ini dikemukakan oleh A.H. John (1961). Oman Faturahman menambahkan bahwa Tasawuf merupakan bagian dari ajaran Islam yang paling sejalan dengan adaptasi budaya lokal.

Dari tulisan di Lampung Post (2010), Agama Islam masuk Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama. Dari arah barat (Minangkabau) agama ini masuk melalui Belalau (Lampung Barat), dari utara (Palembang) melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar (1443), dan dari arah selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhanmaringgai di Keratuan Pugung (1525).

Melihat dari kemungkinan 3 pintu masuk penyebaran agama Islam di daerah Lampung tersebut, dapat dikatakan bahwa Hikayat Nur Muhammad masuk melalui pintu penyebaran Islam di Lampung dengan cara penyebaran melalui pendekatan Tasawuf, para Ulama Sufi ini menyebarkan agama Islam ke berbagai daerah di Lampung, mengenalkan Islam melalui sastra yang bersifat Sufistik melalui Hikayat Nur Muhammad.

Hikayat Nur Muhammad ini diambil dari kitab berbahasa Arab, bernama Umdatul Ansab (pohon segala nasab) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persi berjudul Rudatul Ajab. Tentang itu, Nur Fauzan Ahmad mencatat adanya sanggahan yang dikemukakan oleh Vorhove, bahwa Hikayat Nur Muhammad ini berasal dari bahasa Parsi yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Jadi ada dua pendapat tentang asal dari Hikayat Nur Muhammad ini, yaitu dari Arab diterjemahkan ke Parsi, atau dari Parsi diterjemahkan ke Arab.

Liau Yock Fang menjelaskan bahwa Hikayat Nur Muhammad sangat popular di kalangan orang yang cenderung kepada ilmu Tasawuf. Sejak abad ke-9, ahli-ahli Sufi telah membincangkan tentang Nur Muhammad. Nur Muhammad dianggap sebagai roh Nabi Muhammad yang mula-mula diciptakan oleh Allah, kemudian diwariskan kepada Nabi Adam secara turun-temurun hingga kepada Nabi Muhammad.

Muhamad Fanani (1995) melakukan penelitian Hikayat Nur Muhamad yang berbahasa Melayu dan tulisan Jawi menunjukkan bahwa naskah Hikayat Muhammad tersebut selesai diterjemahkan tanggal 8 Rajab 1179 H. Hikayat ini juga disimpan oleh Sri Sultan Taju Alam Safiyatuddinsyah (Sultanah Aceh 1641 – 1675 M). Naskah hikayat ini selesai ditulis pada 10 Rabiul Akhir 1253 H, dan penulisnya adalah Haji Syamsuddin.

Jika melihat usia naskah Hikayat Nur Muhammad yang diteliti oleh Muhamad Fanani (pada 1253 H) dengan Hikayat Nur Muhammad yang terdapat di perpustakaan Bodleian London (sejak 1630 M), maka dapat kita lihat ada keterpautan sekitar 200 tahun. Penulisan Hikayat Nur Muhammad dalam aksara Lampung ini tentu saja sebelum tahun 1630 M.

Lain halnya dengan Hikayat Nur Muhammad yang beraksara Lampung, disini tanggal dan nama penyalinnya tidak tercantum. Merujuk pendapat Liaw Yock Fang mengenai sastra Melayu zaman peralihan Hindu–Islam, bahwa sastra Melayu lama pada umumnya tidak bertarikh dan tidak ada nama pengarangnya.

Menurut Uka Tjandrasasmita (2010) yang dimaksud manuskrip adalah tulisan tangan asli yang berumur minimal 50 tahun dan punya arti penting bagi peradaban, sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Di Indonesia ada tiga jenis manuskrip Islam. Pertama, manuskrip berbahasa dan tulisan Arab. Kedua, manuskrip Jawi yakni, naskah yang ditulis dengan huruf Arab tapi berbahasa Melayu. Agar sesuai dengan aksen Melayu diberi beberapa tambahan vonim. Ketiga, manuskrip Pegon yakni, naskah yang ditulis dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa daerah seperti, bahasa Jawa, Sunda, Bugis, Buton, Banjar, Aceh dan lainnya.

Melihat dari pendapat Uka tersebut, maka apabila dihadapkan dengan Hikayat Nur Muhammad dalam aksara Lampung, perlu juga mendapat tempat bahwa ternyata adanya penggunaan aksara Lampung, dan mungkin aksara daerah lainnya dalam penulisan manuskrip Islam. Jadi, tidak melulu penyebaran Islam itu melalui aksara Arab, Jawi, Pegon, tetapi juga perlu memberi ruang terhadap keberadaan manuskrip Islam dalam aksara Lampung atau aksara daerah lainnya.

Hal ini yang kemudian disebutkan oleh Oman Faturahman terdapat dua pola transmisi keilmuan yang membentuk dua kelompok bahasa naskah, yaitu kelompok naskah yang berbahasa Arab dan kelompok naskah yang berbahasa daerah. Disini Oman tidak menyinggung pada penulisan aksara, namun lebih pada bahasa, sehingga aksara dan bahasa naskah juga perlu memperoleh penjelasan, seperti pada Hikayat Nur Muhammad yang ditulis dalam aksara Lampung.

Hikayat Nur Muhammad ini adalah sebagai bukti bahwa penyebaran Islam di Lampung juga dilakukan melalui pendekatan Tasawuf.


Wahyu Heriyadi

Pimpinan sebuah penerbitan alternatif di Jawa Barat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *