Buku dan Kekuasaan

Asep Imaduddin AR

Buku adalah saksi mata, perekam, dan pengabar kebudayaan pada dunia yang lebih luas. Dengan buku, kita bisa tahu bahwa dunia tidak sesempit yang kita kira. Buku membawa kita pada alam raya kehidupan seluas semesta yang kita tempati. Wawasan, semangat, dan motivasi terkadang diperoleh dari sebuah buku yang secara subjektif menyadarkan alam bawah sadar kita.

Beberapa tokoh  nasional seperti Emil Salim, Ajip Rosidi, Taufik Abdullah dan lain-lain pernah memberikan testimoninya tentang buku yang secara tak langsung mengubah hidup mereka dalam buku berjudul Bukuku Kakiku.


Mochtar Pabotinggi, peneliti senior dari LIPI, dalam memoarnya yang berjudul Burung-Burung Cakrawala berkisah bagaimana ia ketika duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) terpukau dengan buku Bahasaku. Sebuah buku teks pelajaran yang diterbitkan oleh Departemen dan Kebudayaan pada tahun 1950-an. Bahasaku memuat cerita-cerita dari dan tentang Indonesia dengan ilustrasi yang menyentuh dan mewakili dunia yang diakrabinya. Sungai dan gunung, pohonan mangga, pisang, dan bambu. Pematang-pematang dan angon kerbau. Lautan padi yang di sana-sini-ditunggui dangau-dangau. Dan, hamparan pantai dengan jajaran nyiur yang sedari kecil sudah disaksikan di sepanjang pinggiran selatan dari rentang barat ke timur Bulukumba.

Dari buku Bahasaku itulah seperti pengakuan Mochtar, cakrawala dan imajinasinya tersingkap serentak bagai seruak warna-warni cahaya dari semburat kembang api besar. Dalam kurung usia sembilan  hingga lima belas tahun, cakrawala atau imajinasi Mochtar menggapai lepas dan jauh, melintasi batas-batas desa dan kampungnya di Barebba dan Bontoala.

Senada dengan pengalaman Mochtar, Daoed Joesoef-mantan menteri pendidikan dan kebudayaan di zaman orde baru-seperti diceritakannya dalam buku Rekam Jejak Anak Tiga Zaman atas peran ibu bapaknya ia terpengaruh untuk banyak membaca buku. Ia sendiri sudah melahap semua buku di perpustakaan sekolah yang bisa dicerna sesuai dengan tingkat pengetahuannya.

Emak-panggilan Daoed pada ibunya-pernah berkata bahwa buku adalah pintu dunia. “Kekayaan benda berpisah dari kita bila diberikan kepada orang lain, tetapi kekayaan pikiran tetap melekat pada kita walaupun dibagi dengan orang lain. Bahkan bila tidak dibagi dengan orang lain ini, kekayaan pikiran itu akan raib, bisa hilang lenyap dengan sendirinya karena kita sendiri lama-lama bisa tidak mengingatnya lagi. Dan yang tidak boleh kau lupakan, Nak, adalah bahwa salah satu jalan yang ampuh, salah satu sumber yang tak pernah kering, dari kekayaan pikiran ini adalah buku, sedangkan cara menggali sumber itu adalah membaca. Jadi emak rasa bukan kebetulan kalau Allah menyuruh kita membaca” (Daoed Joesoef, 2017:16).

Dengan buku pulalah, Mohammad Hatta yang ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 25 Februari 1934 dan kemudian pada September 1934 diputuskan dibuang ke Boven Digul tak merasa kesepian. Ia membawa serta 16 peti buku. Dan di tempat pembuangan itulah, atas keluasan dan khazanah bacaannya terhadap buku, Hatta terlibat polemik dengan seorang penulis yang mengaku bernama “Mevr. Vodegel Sumarmah” beralamat di Besancon Perancis. Ia menulis di Sin Tit Po dengan judul “Is Hatta Marxist”. Dan Hatta membalasnya dengan tulisan “Marxisme of Epigonenwijsheid” yang dimuat di majalah mingguan National Coomentaren asuhan Dr. Ratulangi di Bandung.

Penulis terkenal Franz Kafka pernah berujar bahwa “Buku harus menjadi kapak es yang memecahkan lautan beku dalam diri kita”. Ya, buku mestinya menjadi pemecah kebekuan dalam diri manusia yang tak pernah mau belajar dan yang tak mau berubah.

Buku membawa sensasi bagi pembacanya tetapi tidak bagi rezim kuasa yang membencinya. Kekuasaan demokratis akan menganggap buku adalah pencerahan sementara rezim despotik akan berpandangan sebagian buku adalah bencana bagi   kekuasaannya. Maka tak heran, pelarangan buku selalu saja terjadi di setiap zaman, di setiap tempat. Dari penerapan Haartzai Artikelen zaman kolonial hingga kini. Dari Student Hijo-nya Mas Marco Kartodikromo, Tetralogi Buru Pramoedya Ananota Toer, hingga Dalih Pembunuhan Massal-nya John Roosa.

Tidak saja zaman kolonial, juga Orde Lama, Orde Baru bahkan pasca reformasi. Semuanya bermuara pada pandangan bahwa pada buku tersebut mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban umum. Ada benarnya adagium populer yang disenandungkan Lord Acton bahwa power tends to corrupt, absolute power tends to corrupt absolutely.

Kebijakan pelarangan buku tidak saja terjadi hanya karena isi buku belaka tetapi juga buku-buku yang tak sefaham dengan garis politik yang dipancangkan sebuah rezim. Ketika riuh rendah Manifesto Politik (Manipol) yang dikumandangkan Soekarno pada Orde Lama sedang pada puncak-puncaknya, penulis-penulis yang dianggap penandatangan Manifesto Kebudayaan dan “kurang revolusioner” buku-bukunya juga dilarang beredar dan diterbitkan. Alasannya: tak ada spirit progresif revolusioner.

Buku dan kekuasaan sering bersanding tak jarang bertanding. Mereka bisa berkawan dan bisa menjadi lawan. Buku dan kekuasaan kadang berpadu dan pasti pernah berseteru. Sungguh tak elok jika memang kekuasaan yang tak demokratis selalu memasang blokade pelarangan buku-buku. Mengapa begitu paranoidnya jika kekuasaan selalu takut dengan buku? Adakah yang berbahaya dari sebuah buku jika memang buku itu dianggap berbahaya dan sesat menyesatkan?

Teladan bijak bisa kita cermati dari perseteruan beda zaman antara filosof muslim terkemuka ketika peradaban Islam sedang berjaya. Perdebatannya menjadi kisah klasik yang patut menjadi contoh di kala kini. Bukan melarang dan membakar melainkan mendebat buku vis a vis buku.

Imam Ghazali ketika merasa jengah dengan filsafat yang menurutnya telah menyeret umat ke arus yang tak semestinya, segera menumpahkan kekesalannya dengan menulis Tahafut al Falaasifah. Beberapa waktu kemudian, ketika Ibnu Rusydi tak setuju dengan pemikiran Ghazali, ia bukannya membakar melarang buku sebagai tanda peradaban primitif, melainkan menuangkan pemikirannya pada sebuah kitab yang selanjutnya terkenal dengan judul Tahafut at Tahafut. Begitulah Ibnu Rusydi, seorang filosof muslim yang begitu hormatnya dengan sebuah buku.

Tak ada buku yang buruk, kalaulah menurut pandangan kita ada sebagian buku yang dianggap buruk tak usahlah dibaca dan apalagi dibeli. Mudah saja kan?  Semua buku adalah kawan yang baik bagi segmen pembacanya. Buku adalah sahabat yang tak pernah marah dan sangat menyenangkan. Dan tak ada buku yang berbahaya, karena buku hanya memotret realitas dan tempat imajinasi itu ditumpahkan.

Sekali waktu Pram pernah merasa heran dan ia menulis “Saya makin bingung dengan Indonesia ini. Takut dengan pengarang dan dipenjarakannya saya selama 14 tahun tanpa pengadilan. Padahal di belakang saya selain sepi sunyi tak ada deretan tentara, persenjataan canggih, atau pembunuh-pembunuh bayaran. Heran saya”.

Pram tentu jangan heran, karena di belahan dunia lain pun, acap kali rezim yang totaliter mesti mengalami sindroma takut yang akut terhadap para pengarang. Pemerintah Soviet takut pada Dr. Zhivago-nya Boris Pasternak, Ceko takut pada Milan Kundera.

Deretan rezim haus kuasa itu dengan cara apapun ingin menyingkirkan para pengarang yang dinilainya merongrong kekuasaan. Benar apa yang pernah dikatakan oleh Milan Kundera bahwa perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.

Beberapa peraih nobel sastra seperti Gabriel Garcia Marquez, Gao Xingjian, Herta Muller dan beberapa yang lain pernah mengalami penindasan atas kerja penulisan yang dilakukannya hanya karena mereka menulis tak sepaham dengan kekuasaan yang sedang berlangsung. Beberapa ditangkap, beberapa mesti hengkang. Gao ke Perancis, Herta ke Jerman.

Sungguh, kekuasaan totaliter tak pernah bisa berdamai dengan kebebasan. Mungkin mereka menyangka bahwa kekuasaan yang sedang dipegangnya itu akan langgeng dan berjalan terus. Mereka lupa bahwa akumulasi penindasan secara terus menerus bisa jadi memungkinkan timbulnya perlawananan. Mulanya mungkin dengan kata, akhirnya berujung revolusi.

Dan ini sudah terbukti di beberapa negara yang pernah memberlakukan totaliterisme. Dari sini kita bisa mengatakan bahwa jangan anggap kata-kata tak berdaya. Ia akan menampakkan efeknya pada waktu yang tepat.

Ada baiknya kita memperhatikan wanti-wanti yang pernah dikemukakan oleh Milan Hubl, sejarawan Ceko yang kena pecat oleh Gustav Husak-saya mengutipnya dari buku Dunia Tanpa Ingatan (2004:32)-“Langkah pertama untuk menaklukkan sebuah masyarakat adalah dengan memusnahkan ingatannya. Hancurkan buku-buku, kebudayaan dan sejarahnya. Lalu perintahkan seseorang untuk menulis buku-buku baru, membangun kebudayaan baru, dan menyusun sejarah baru. Tak akan lama, masyarakat itu akan mulai lupa pada masa kini dan masa lampaunya”.


Asep Imaduddin AR

Lulus dari Pendidikan Sejarah UPI Tahun 2005 dengan skripsi tentang Murtadha Muthahhari. Beberapa tulisannya sempat dimuat di Galamedia, Pikiran Rakyat, Kompas Jawa Barat, Suara Muhammadiyah, Koran Jakarta dan Media Pembinaan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *