Populer

Candu, Racun Sekaligus Senjata

Strategi Belanda Meredam Perlawanan Rakyat di Nusantara

Salah satu strategi Belanda dalam meredam perawanan rakyat di Nusantara adalah melalui candu. Sejak 1745, pemerintah Hindia Belanda telah melegalisasi candu dengan membentuk sebuah yayasan yang bergerak dalam perdagangan candu. Yayasan tersebut bernama Societeit van den Amphioen Handel. Dalam bahasa Belanda amphioen adalah candu. Keuntungan penjualan candu tersebut digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menyogok raja dan pengusaha pribumi serta untuk biaya operasional perang.

Candu atau yang disebut juga ampiun didatangkan dari Benggala, India. Pembelian dan pengangkutannya menjadi tanggung jawab VOC. Kala itu permintaan masyarakat akan candu sangat tinggi, sehingga mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk membuat pabrik candu.

Pabrik candu pertama didirikan di daerah Struiswijk (Gang Tengah, Jakarta) dan di Meester Cornelis (Jatinegara, Jakarta) pada 1894. Namun, kedua pabrik tersebut kewalahan dalam memenuhi permintaan candu di Nusantara.

Pada 1901 didirikan pabrik candu modern di daerah Kramat, Jakarta, yang dilengkapi dengan jalur kereta api pengangkut candu mentah dari pelabuhan ke pabrik. Kini lokasi pabrik tersebut dialihfungsikan sebagai kampus Universitas Indonesia yang terletak di jalan Salemba.

Menurut Capt. R.P. Suryono dalam bukunya yang berjudul ‘Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial’, jauh sebelum candu itu dilegalkan, penduduk Nusantara telah diracuni dengan candu. Penggunaan candu tersebut bertujuan untuk melemahkan rakyat agar tidak melawan serta melemahkan tentara-tentara kerajaan agar wilayahnya lebih mudah direbut.

Dalam sebuah berita di majalah Militaire Gids (1913), tertulis bahwa 60 persen dari para Bintara di Jawa adalah penghisap candu. Candu itu dijual secara sembunyi-sembunyi di asrama para serdadu muda tersebut.

Pada 1905, dalam pertempuran antara Belanda dengan kerajaan Bone di Sulawesi Selatan, pasukan Hindia Belanda dapat merebut kerajaan Bone dengan mudah. Hal tersebut dikarenakan selama pertempuran prajurit kerajaan Bone hanya termenung akibat berkurangnya kesadaran setelah terbiasa menghisap candu. Candu juga menjadi penyebab meletusnya peperangan antara Kerajaan Lombok dengan Hindia Belanda akibat persaingan penjualan candu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *