Asal-Usul Nama Nusantara

Dari Gajah Mada Sampai Setiabudi

Sebutan Nusantara yang mengacu pada kepulauan Indonesia tidak langsung muncul begitu saja. Sejak zaman purba, kawasan kepulauan kita telah mendapatkan banyak nama. Pada catatan bangsa Cina, kawasan kepulauan Indonesia diberi nama Nan-hai yang berarti Kepulauan Laut Selatan. Sementara itu, pada berbagai catatan kuno dari bangsa India terdapat sebutan Dwipantara atau Kepulauan Tanah Seberang, yang berasal dari bahasa Sansekerta dan merupakan perpaduan dari kata dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang).

Dalam kisah Ramayana, disebutkan bahwa Rama mencari Sinta, istrinya, yang diculik oleh Rahwana, hingga ke Suwarnadwipa, yang terletak di kepulauan Dwipantara. Suwarnadwipa mengandung arti Pulau Emas, yang merujuk pada Pulau Sumatera.


Penggunaan kata Dwipantara ini dalam sejarah tercatat juga dipakai dalam konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, yang dicetuskan oleh Kertanegara, raja Singasari. Ketika itu, Kertanegara bermaksud untuk menggalang persatuan antara kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara di bawah pimpinan Singasari dalam rangka menghadapi serangan bangsa Mongol yang membangun Dinasti Yuan di Cina.

Hubungan antara kata dwipantara dengan nusantara masih belum terlihat dengan jelas, hingga kemudian muncullah Sumpah Palapa Gajah Mada dari kerajaan Majapahit pada 1336. Sumpah itu berbunyi, “Lamun huwus kalah nusantara, ingsun amukti palapa” (Jika pulau-pulau seberang telah dikalahkan, barulah saya melepaskan puasa), yang tertulis dalam naskah Jawa kuno Pararaton dan Negarakertagama. Kata nusantara pada masa Majapahit sering digunakan untuk menyebut pulau-pulau di luar Jawa, namun sebenarnya kata nusa merupakan sinonim dari dwipa, yang berarti pulau. Sementara Pulau Jawa sendiri pada masa itu disebut sebagai Jawadwipa.

Pada 1920, kata nusantara kembali diperkenalkan oleh Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang juga dikenal dengan nama Dr. Setiabudi, sebagai nama untuk negara Indonesia. Nama ini dipilih dengan pertimbangan tidak mengandung unsur kata India, seperti yang terdapat pada nama resmi Nederlandsch-Indie atau Hindia Belanda yang diberikan oleh bangsa Belanda ketika menjajah negeri kita. Dr. Setiabudi  mengambil nama ini dari Pararaton yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 dan diterjemahkan oleh J.L.A Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada 1920.

Tentu saja, definisi kata nusantara yang diperkenalkan oleh Dr. Setiabudi ini berbeda dengan pengertiannya pada abad ke-14, saat diucapkan oleh Gajah Mada. Apabila selama masa kerajaan Majapahit kata nusantara merujuk pada wilayah yang ingin dikalahkan, pada abad ke-19 kata ini digunakan untuk mendefinisikan wilayah indonesia, tepatnya dari Sabang sampai Merauke. Nusantara memiliki arti yang baru, yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga didalamnya termasuk juga pulau Pulau Jawa. Meski belakangan kita telah menggunakan Indonesia sebagai nama resmi bangsa dan negara, kata nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan cakupan wilayah tanah air kita.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close