Populer

Bahasa Indonesia, Bahasa Persatuan

Asep Imaduddin AR

Tanpa mempelajari bahasa sendiri, orang takkan mengenal bangsanya sendiri(Pramoedya Ananta Toer)

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional negara kita, sekaligus sebagai bahasa pengantar resmi dalam edukasi, birokrasi dan administrasi. Bahkan, mungkin di beberapa kota besar di Indonesia, menjadi lingua franca dalam kehidupan sehari hari di samping bahasa ibu yang sudah mendarah daging seperti Batak, Minang, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, dan lain lain.

Maka dalam posisinya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menjadi perekat. Contoh kecil saja, apabila kita bertemu dengan seseorang di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun kereta api, terminal, dan pelabuhan di sejumlah kota besar yang ada di Indonesia, maka untuk mengawali obrolan pastilah kita menggunakan bahasa yang dianggap bisa dimengerti oleh semua orang yaitu bahasa Indonesia.

Karenanya, bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Ia merupakan kode generik bagi seluruh rakyat Indonesia ketika berkomunikasi. Ia adalah bahasa formal yang saya asumsikan mudah dimengerti oleh sebagian besar orang Indonesia, minimal karena pernah menerima pelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Kita tak bisa mengabaikan sebuah fakta bahwa bahasa Indonesia yang dipakai saat ini berakar dari bahasa Melayu rendah. Sebuah bahasa yang awalnya digunakan oleh para penuturnya di wilayah pantai timur dan tenggara Sumatera. Budaya pesisir pantai menjadi “rumah” pertama bagi tumbuh kembangnya bahasa Melayu sebelum bersalin rupa menjadi bahasa Indonesia.

Sebagaimana lazimnya latar belakang sosio kultural pesisir, maka bahasa Melayu secara langsung memiliki sifat budaya pantai yang terbuka, terus terang, tanpa basa basi, dan tak mengenal kasta. Dan inilah yang menjadi kelebihan masa Melayu dibandingkan dengan bahasa bahasa daerah lain.

Bahkan dengan lugas, pengarang terkemuka Indonesia yang pernah menjadi kandidat penerima nobel sastra, Pramoedya Ananta Toer, dalam Pram Melawan! Dari Perkara Sex, Lekra, PKI, Sampai Proses Kreatif menyebutkan bahwa dengan bahasa Indonesia saya tak perlu merangkak-rangkak.

Pram memang lahir di Blora dan dibesarkan dalam tradisi Jawa, sehingga bahasa bertingkat yang didasarkan pada kelas sosial atau kasta sungguh menjemukan dirinya. Dataran luas kemungkinan bereskpresi tak tampak di matanya kalau dengan bahasa berundak-undak. Otak dirasakannya tumpul dan lidah kelu. Sialnya, bahasa seperti itulah yang ia warisi dari orangtuanya: bahasa Jawa (P Hasudungan Sirait, 2011: 166). Barangkali, tingkatan dalam berbahasa Jawa itulah yang Pram tak inginkan. Mesti merangkak-rangkak. Harus menunduk-nunduk. Bahasa yang bertingkat-tingkat bisa jadi berawal dari segregasi sosial yang dikondisikan. Ada kawula dan raja. Ada sultan dan rakyat jelata.

Tingkatan sosial di nusantara sebelum bernama Indonesia sangatlah tajam sehingga menimbulkan pembedaan yang direkayasa. Perbedaan itu amat menjulang yang menyisakan jarak antara langit dan bumi. Diskriminasi dan segregasi sosial bisa disaksikan dengan amat telanjang. Beberapa kasus malah berujung pada konflik dan pertikaian.

Awalnya, kerajaan kerajaan bercorak Hindu membawa kasta dalam kehidupan sosial. Manusia dinilai dari asal usul genealogis. Tak ada kesempatan untuk naik kasta. Selanjutnya, ketika kaum kolonial Eropa bercokol di nusantara, diskriminasi dan segregasi berdasarkan warna kulit. Putih dan bukan putih. Mereka yang berwarna putih menjadi bos. Kulit berwarna terpaksa menjadi jongos. Kolonialisme memang telah menempatkan kemanusiaan pada titiknya yang paling bawah.

Beberapa bahasa daerah mengenal strata dalam berbahasa. Terdapat perbedaan jenis kata yang dipakai apabila hendak mengatakan sesuatu kepada raja dan kepada hamba. Bahasa Melayu tak mengenal kasta dalam bahasa. Mungkin itulah sebabnya kemudian bahasa Melayu dipilih menjadi bahasa persatuan yang disepakati peserta kongres pemuda II di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928.

Mengapa bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu rendah dipilih menjadi bahasa persatuan, padahal pada waktu itu penutur Bahasa Melayu hanya enam persen jauh lebih sedikit ketimbang Bahasa Jawa yang mempunyai penutur kurang lebih 40 persen?

R.E Elson dalam buku The Idea of Indonesia: Sejarah Pemikiran dan Gagasan memberikan jawaban. Bahasa Melayu rendah yang mereka gunakan punya kelebihan antara lain “tak terikat suku” dan “tak terikat status.” Bahasa tersebut tidak punya masalah hirarki seperti bahasa Jawa, dan mendukung egalitarianisme sosial serta anti feodalisme yang dianut para pemimpin pergerakan.

Elson menegaskan bahwa pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pergerakan itu sendiri sudah banyak bercerita. Orang Belanda menghina ketidakmampuan banyak tokoh nasionalis menggunakan bahasa “baru” itu; upaya Sukiman menggunakan bahasa Melayu membuat dia tidak dimengerti audiens, dan dia harus melanjutkan dengan berbahasa Jawa setelah tidak diizinkan berbicara bahasa Belanda.

Berbeda dengan Haji Agus Salim, seorang aktivis pergerakan yang terkenal cerdik dan tangkas. Dalam Tempo edisi khusus Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik Agustus 2013 dikisahkan, dalam suatu sidang Dewan Rakyat Hindia Belanda pada 1922, Haji Agus Salim tiba-tiba berpidato menggunakan bahasa Melayu. Puluhan anggota dewan yang mayoritas orang Eropa tentu saja tercengang.

Tingkah Salim membuat geger peserta sidang. Ada semacam aturan tertulis yang mewajibkan semua anggota dewan berbicara bahasa Belanda. Haji Agus Salim melanggar pakem tersebut. Salim beralasan, sebagai anggota dewan ia memiliki hak berbicara dalam bahasa Melayu.

Tak hanya itu, Salim mengkritik sikap pemerintah Belanda yang tak peduli pada rakyat jajahannya. Gusar dengan perbuatan Haji Agus Salim, seorang anggota Volksraad bernama Bergmeyer meminta Salim menerjemahkan kata “ekonomi” ke bahasa Melayu. Ia berharap Salim menghentikan pidato karena malu tak bisa menjawab pertanyaan. Tak dikira, Salim menyambut tantangan itu. Katanya, dia akan menjawab pertanyaan Bergmeyer. Tapi dia mengajukan syarat. “Tuan  sebutkan dulu apa kata ‘ekonomi’ itu dalam bahasa Belanda,” ujarnya. Bergmeyer lantas terdiam dan Salim terus melanjutkan orasinya.

Karenanya, bahasa Indonesia yang egaliter dan tak punya hierarki seperti bahasa Jawa dan Sunda misalnya, menjadi bisa diterima oleh para pemimpin pergerakan waktu itu. Bahasa Indonesia membantu para aktivis pergerakan untuk berkomunikasi lintas suku tanpa menimbulkan masalah. Dengan demikian, bahasa Indonesia dapat diterima karena tidak mengancam dan tidak eksklusif. Dan belakangan, bahasa Indonesia menjadi pertanda pertumbuhan keyakinan akan Indonesia, sebagaimana ketika fraksi Thamrin mulai menggunakan bahasa Indonesia untuk kali pertama dalam perdebatan Volksraad (Elson, 2009:99).

Dua tahun sebelumnya, pada kongres pemuda I yang berlangsung pada 26 April sampai 2 Mei 1926 di Weltevreden, Yamin dengan bahasa Belanda yang fasih mengungkapkan optimismenya terhadap bahasa Melayu, “Saya yakin seyakin yakinnya bahwa bahasa Melayu lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan dan bahasa persatuan yang ditentukan untuk orang Indonesia, dan kebudayaan Indonesia masa depan akan mendapatkan pengungkapannya dalam bahasa itu. Bahasa bahasa bumiputra yang lain seperti Bahasa Sunda, Bahasa Aceh, Bugis, Madura, Bahasa Minangkabau, Bahasa Rote, Bahasa Batak, dan banyak yang lain lagi bisa kita anggap bagus akan tetapi kurang lebih terbatas wilayah penyebarannya.”

Kini, ucapan Yamin itu semakin mendapat kenyataan bahwa bahasa Indonesia terus membuktikan eksistensinya sebagai salah satu bahasa pergaulan yang secara simultan semakin berkembang mengikuti perkembangan zaman. Kosakata baru terus bermunculan seiring dengan pertukaran informasi dalam kehidupan global. Sejumlah kata-kata baru yang lahir akibat semakin massifnya teknologi digital dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Ini sebagai bukti bahwa bahasa Indonesia tidak alergi dengan keterbukaan. Ia menyerap dengan lentur dan semakin memperkaya khazanah berbahasa bagi sekian puluh juta penuturnya. Dan barangkali kita akan sangat yakin bahwa bahasa Indonesia akan mengalami lonjakan perkembangan yang cukup berarti di masa depan. Bukan tak mungkin jika beberapa tahun kelak, bahasa Indonesia akan menjadi salah satu bahasa pergaulan dunia.


Asep Imaduddin AR

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

tristique quis, libero leo. ut felis luctus velit, ut