Populer

Di Batavia, Mereka Menyerukan Persatuan

Asep Imaduddin AR

Anak anak muda usia 20-an tahun. Berpakaian rapi. Sebagian berpantalon dengan peci hitam. Tak lupa menggantung dasi di lehernya. Memakai sepatu dengan gagahnya. Sebagian mungkin bersurjan dengan blangkon di atas kepala. Mereka datang dari berbagai perkumpulan yang berbasis kedaerahan. Walau begitu, mereka tak pernah menonjolkan perbedaan kesukuan.

Mereka lebih suka menggelar pandangan yang berwawasan kebangsaan. Sebagian besar mungkin karena mereka ditempa oleh sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda akibat Etische Politiek guna membalas budi Hindia Belanda yang telah sedemikian lama dipompa kekayaan alamnya.

Jong Sumateranen Bond, Jong Java, Jong Celebes, Minahasa, Maluku, Sunda, dan beberapa yang lain. Mereka datang ke Batavia menghadiri sebuah kongres pada 27-28 Oktober 1928, yang kelak akan dikenang sebagai tonggak dari sebuah ikrar persatuan yang dikumandangkan oleh sehimpunan anak-anak yang masih belia itu: Sumpah Pemuda.

Tak pelak, sejarah mencatat Kongres Pemuda II ini sebagai salah satu kumandang politik tegas yang digaungkan oleh pemuda-pemuda dua puluh tahunan itu. Robert E. Elson dalam The Idea of Indonesia mencatat bahwa sejumlah tokoh nasionalis yang mulai menampakkan taringnya itu seperti Yamin, Amir Sjarifudin, Sukiman dan Asaat menyerukan “satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa” dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Walaupun sebelumnya, menurut empu sejarawan Indonesia, mendiang Sartono Kartodirdjo, Sumpah Pemuda ini hanyalah amplifier. Manifesto Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda jauh lebih tegas ketimbang Sumpah Pemuda.

Akan tetapi baiklah, semua peristiwa mempunyai konteks sejarahnya masing-masing. Tak usahlah kita menimbang-nimbang mana yang lebih utama, utama, atau kurang utama. Semua peristiwa sejarah mempunyai signifikansi, sejauh mana kita dapat memperoleh pelajaran setelahnya. Dan tak ada salahnya pula kalau setiap Bulan Oktober, ingatan kita akan melayang pada Sumpah Pemuda.

Inilah tonggak ketika sekumpulan pemuda itu dengan gagah, tanpa canggung, dan tanpa takut memproklamirkan berbangsa satu bangsa Indonesia; tanah air satu tanah air Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Padahal keadaan disekelilingnya masih berada dalam kooptasi kekuasaan kolonial Belanda yang masih mencengkeram dengan kuat.

Mereka sepertinya sangat yakin akan terwujudnya mimpi sebuah negara merdeka yang entah namanya apa. Hitungan sejarah mencatat, masih 17 tahun lagi menuju proklamasi kemerdekaan yang dilakukan oleh dwi tunggal Sukarno-Hatta. Bahkan, beberapa pelaku Sumpah Pemuda ini mungkin tak pernah menyaksikan jika di tahun 1945, sebuah negara baru muncul bernama Indonesia. Wage Rudolf Soepratman termasuk pada sebagian orang yang tak pernah melihat tumbuhnya negara baru, ia wafat di tahun 1938.

W.R. Soepratman, demikian kita ia kenal. Ia salah seorang pelaku sejarah Sumpah Pemuda II pada waktu itu. Resminya ia adalah seorang wartawan yang ditugasi kantornya untuk meliput peristiwa bersejarah ini. Ia juga pandai bermain biola. Dan jangan lupa ia seorang pembaca dari sebuah buku bertajuk Naar de Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Penulisnya, pejuang bawah tanah Indonesia yang luput dari sejarah resmi Indonesia: Tan Malaka.

Menjelang penutupan kongres, intel kolonial Belanda atau PID banyak berkeliaran di sekitar gedung tempat penyelenggaraan kongres. Dalam 100 Konser Musik di Indonesia dikisahkan-dengan mengutip tulisan St. Soelarto di Prisma Mei 1983-bahwa W.R. Soepratman sudah dijanjikan Ketua Panitia Kongres Pemuda II, Sugondo Djojopuspito, bahwa nanti boleh menyanyikan lagu ciptaannya saat jam istirahat. Karena itu, Soepratman menyodorkan secarik kertas berisi lirik lagu “Indonesia Raya” itu. Sugondo mengernyitkan dahi dan tampak ragu untuk mengizinkan lagu itu diperdengarkan. Sebab,  jangan-jangan malah jadi alasan pemerintah melarang penutupan kongres. Sugondo pun minta izin kepada pembesar Kantoor voor Inlandsche Zaken, Van der Plas, pejabat yang diserahi mengawasi jalannya kongres. Van der Plas justru meminta Hoofd Commisaris yang duduk disebelahnya. Untuk mensiasati, panitia kongres menyuruh W.R. Soepratman memainkan nada biola tanpa teks lagu yang dikarangnya. Lagu itu bernama Indonesia Raya. Kelak ia menjadi lagu kebangsaan Indonesia hingga sekarang.

Trisakti Sumpah Pemuda adalah sebuah konsepsi yang dilahirkan dari sebuah pemikiran jangka panjang akan kerinduan sebuah tanah yang merdeka, tanah yang berdaulat, tanah yang nihil dari ketertindasan, diskriminasi, dan segregasi yang tak masuk akal karena perbedaan warna kulit. Mungkin mereka masih ingat bahwa pada jaman itu banyak terpampang pengumuman di tempat tempat umum bernada rasis, salah satunya berbunyi: Verboden voor Honden en Inlander, yang artinya Terlarang bagi Anjing dan Pribumi.

Mereka sadar bahwa kemerdekaan yang ingin mereka raih mesti berpeluh dengan keringat, darah, dan air mata. Tak mungkin sebuah negara penjajah akan menyerahkan dengan sukarela tanah jajahannya menjadi negara yang merdeka. Kalaupun ia, pastilah ada embel-embel dibelakangnya. Para pendiri republik tak berpikir pendek dengan ongkang-ongkang. Mereka tak tahu kapan perjuangan ini berakhir dan berbuah menjadi negara. Toh, mereka tetap berjuang tanpa pamrih dari sebuah keinginan jangka pendek.

Konsepsi bangsa yang satu, tanah yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia adalah sebuah harapan, sebuah asa yang ditancapkan bahwa kita akan menuju ke sana namun dengan catatan bahwa mencapainya pasti tak mudah. Nietschze, seorang filsuf kontroversial dari daratan Jerman pernah berkata bahwa dengan harapanlah manusia dapat hidup. Tanpa harapan, manusia tak akan memperoleh kebahagiaan yang diharapkan.

Dengan momentum Sumpah Pemuda, mestinya kita bisa berkaca mengenai keindonesiaan kita hari ini yang mungkin sedang tercabik-cabik akibat kebengalan yang diekspresikan secara berlebihan. Sebagian yang menjadi korban mungkin saudara-saudara kita yang tak tahu apa-apa. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Sebaiknya kita menoleh kembali tentang makna kita ber-Indonesia, agar negara-bangsa yang kita cintai tetap eksis dan berdaulat secara penuh.


Asep Imaduddin AR

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

risus Donec justo ipsum Praesent odio mi, fringilla luctus