Populer

Geger Pecinan: Pembantaian Etnis Tionghoa di Batavia

Geger Pecinan atau yang dikenal sebagai Tragedi Angke atau Chinezenmoord dalam bahasa Belanda berarti “Pembunuhan orang Tionghoa”. Adalah peristiwa kekerasan tentara Hindia-Belanda kepada keturunan Tionghoa di Batavia. Peristiwa tersebut berlangsung dari 9-12 Oktober 1740, kemudian diikuti dengan berbagai pertempuran kecil hingga akhir November 1740.

Tragedi Angke diawali dari jatuhnya harga gula di pasar dunia. Untuk menambah kas, Dewan Hindia-Belanda dan Gubernur Jendral Adriaan Valckenier menempuh jalan pintas dengan program tanam paksa bagi warga pribumi dan program “Surat Izin Tinggal” bagi etnis keturunan imigran.

Seluruh etnis Tionghoa yang tinggal di dalam maupun di luar tembok Batavia diwajibkan memiliki “Surat Izin Tinggal” dengan masa waktu terbatas. Etnis Tionghoa yang tidak memiliki surat tersebut akan didenda, di penjara atau diusir dari seluruh wilayah Hindia-Belanda.

Pemerintah VOC memberlakukan program tersebut dengan alasan agar wilayah Batavia dan sekitarnya bersih dari pendatang ilegal yang mengganggu ketertiban. Pada 1719, tercatat terdapat 7.550 jiwa penduduk imigran Tionghoa yang menetap di Batavia. Dua puluh tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 10.574 jiwa.

Program tersebut berhasil mendatangkan keuntungan pajak bagi VOC, namun kesejahteraan etnis Tionghoa kian merosot akibat adanya surat izin tersebut dan berbagai macam pungutan liar. Bahkan banyak pedagang Tionghoa yang beralih buruh kasar karena bangkrut.

Keadaan tersebut menimbulkan ketidakpuasan dan keresahan warga keturunan Tionghoa. Untuk menanggapi keresahan tersebut, Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier mengatakan bahwa kerusuhan apapun dapat ditangani dengan kekerasan yang mematikan.

Pembantaian Massal

Pernyataan tersebut diberlakukan pada 7 Oktober 1740 setelah ratusan keturunan Tionghoa, mayoritas adalah buruh pabrik gula, membunuh 50 pasukan Belanda. Kemudian Belanda mengirim pasukan tambahan untuk melucuti senjata warga keturunan Tionghoa serta memberlakukan jam malam.

Akibat ketakutan akan kekejaman etnis Tionghoa, kelompok etnis lain di Batavia mulai membakar rumah orang-orang keturunan Tionghoa di sepanjang Kali Besar. Sementara itu, pasukan Belanda menyerang rumah orang-orang keturunan Tionghoa dengan meriam. Kekerasan tersebut menyebar ke seluruh Batavia sehingga lebih banyak lagi orang-orang keturunan Tionghoa yang terbunuh.

Pada 11 Oktober 1740, Valckenier menyatakan pengampunannya bagi orang keturunan orang Tionghoa namun pemburuan dan pembunuhan orang-orang keturunan Tionghoa oleh tentara Belanda terus berjalan. Dua hari kemudian, Dewan Hindia-Belanda menyatakan bahwa setiap orang yang membawa kepala orang keturunan Tionghoa akan dihargai sebesar dua dukat (satuan nilai mata uang emas atau perak). Pernyataan tersebut digunakan untuk memancing suku lain agar ikut memburu orang Tionghoa.

Pada 22 Oktober 1740, Valckenier memerintahkan agar semua pembunuhan dihentikan. Dalam suratnya, ia menyatakan bahwa kesalahan sepenuhnya berada di tangan orang-orang keturunan Tionghoa yang menimbulkan kerusuhan di Batavia. Ia mengajak orang-orang keturunan Tionghoa untuk berdamai, kecuali pemimpin pemberontakan. Ia bahkan menghargai setiap pemimpin pemberontakan sebesar 500 rijksdaalder (koin yang pertama kali diterbitkan oleh Republik Belanda pada akhir abad ke-16).

Di luar batas kota, tentara Belanda harus menghadapi kerusuhan yang ditimbulkan oleh buruh pabrik gula. Beberapa minggu kemudian pasukan Belanda menyerang markas orang-orang keturunan Tionghoa di berbagai pabrik gula.

Sebagian besar sejarawan mencatat sebanyak 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai serta ratusan rumah dijarah dan dibakar. Sejarawan Tionghoa-Indonesia Benny G. Setiono mencatat bahwa sebanyak 500 tahanan dan pasien rumah sakit dibunuh pemerintah Hindia-Belanda. pemerintah juga mensyaratkan pemindahan semua penduduk Batavia keturunan Tionghoa ke suatu tempat di luar batas kota Batavia. Lokasi tersebut kini dikenal dengan nama Glodok. Untuk meninggalkan tempat tersebut, orang Tionghoa membutuhkan tiket khusus.

Pada 1743, orang-orang keturunan Tionghoa yang dipimpin oleh Khe Pandjang mengungsi ke Jawa Tengah. Di sana mereka menyerang berbagai pos perdagangan Belanda dan bergabung dengan pasukan Pakubuwana II (Sultan Mataram).

Sejarawan Belanda, Leonard Blussé, menulis bahwa Geger Pecinan selain membuat Kota Batavia berkembang pesat secara tidak langsung, juga membuat dikotomi antara etnis Tionghoa dan etnis Pribumi.

Peristiwa tersebut juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta. Tanah Abang, yang berarti tanah merah, mewakili darah orang-orang keturunan Tionghoa yang dibunuh di sana. Rawa Bangke diambil dari kata bangkai, merujuk pada orang-orang Tionghoa yang dibunuh di tempat itu. Nama Angke yang terletak di Tambora, Jakarta Barat, juga menggambarkan bangkai orang-orang keturunan Tionghoa di sana.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

facilisis ut commodo Donec neque. Curabitur et, id, ipsum velit, diam