Populer

Kesialan Para Serdadu yang Belagu

Asep Imaduddin AR

Setelah kumandang proklamasi oleh dwi tunggal Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan segera gegap gempita rasa merdeka itu menyeruak ke seluruh penjuru nusantara. Sebuah bangsa baru saja tumbuh dari cengkeraman kolonialisme yang telah mendera dalam hitungan tahun yang cukup lama. Bangsa yang dengan kaki dan tangannya sendiri bertekad untuk berdikari. Berdiri di atas jejak yang ditanam oleh keringat sendiri, daripada membungkuk-bungkuk di depan bangsa asing yang dengan serakah mengeruk sumber daya alam nusantara.

Kata “merdeka” memang sangat sederhana. Namun maknanya mampu menjebol tatanan-tatanan lama. Robert E. Elson dalam The Idea of Indonesia mencatat bahwa di Yogyakarta, pada awal September 1945, Sultan Hamengkubuwono ke-IX menyatakan “Negara Ngayogyakarta Hadiningrat yang merupakan Kesultanan, adalah Daerah Istimewa dalam Republik Indonesia. Di Surabaya, sebelum akhir Agustus 1945 gambar tempel dan bendera kecil merah putih telah muncul di kota dan tak lama kemudian membanjiri kota.

Di Bandung, menurut catatan John Smail dalam Bandung Awal Revolusi: 1945-1946, walaupun warga pada mulanya agak ragu bahwa Indonesia telah merdeka yang didengarnya lewat kantor berita Domei 17 Agustus 1945 siang dan mendapat bantahan resmi dari Jepang sejam kemudian. Tak membuat warga Bandung mempercayai bantahan dari pihak Jepang. Sejumlah wartawan-wartawan muda republik segera membuat poster-poster besar untuk dipasang di luar bangunan kantor yang dengan mudah bisa dibaca oleh  masyarakat. Pamflet dan poster inilah yang kemudian menjadi salah satu sarana utama penyebaran proklamasi di Bandung.

Di Aceh-seperti ditulis dalam Tempo edisi khusus 2003 “Mengapa Aceh Berontak”-datangnya proklamasi kemerdekaan ini menajamkan polarisasi antara ulama dan uleebalang. Kabar merdeka tak cepat sampai. Namun, segenap ulama yang tergabung ke dalam Persatuan Ulama seluruh Aceh (PUSA) yang dipimpin oleh Teungku Daud Beureueh tanpa ragu mengucapkan sumpah setia ke dalam Republik Indonesia yang baru saja berdiri. Hanya, kaum uleebalang tak sejelas sikap kaum ulama. Ada yang berpihak pada republik, ada yang malah merindukan datangnya Belanda kembali seperti Teuku Daud Cumbok. Inilah yang kemudian yang menyulut terjadinya Perang Cumbok awal 1946.

Ingar-bingar nuansa merdeka memang memberikan rasa baru yang lebih segar, dan terkadang juga malah bisa kelewatan. Secara personal, KH. Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren memberikan gambaran suasana di awal-awal kemerdekaan. Ketika beliau mau naik kereta api dari Stasiun Yogyakarta ke Surabaya dalam rangka konsolidasi pengurus Nahdlatul Ulama se-Jawa dan Madura, ia melihat “tampang” kereta api zaman revolusi. “Deretan gerbong-gerbong kereta api Jakarta itu penuh dengan coretan berwarna-warni, bertuliskan berbagai semboyan dalam Bahasa Inggris. Indonesia Never Again the LIFE BLOOD of ANY NATION!” – Soekarno? Yes! Van Mook? No! – we fight for democracy – we have only to win – For the right of self determination – Give Me Liberty or Give Me Death – Freedom Forever!

Menurut KH. Saifuddin Zuhri, bahwa semboyan-semboyan yang sifatnya patriotik itu ditujukan kepada dunia internasional, terutama kepada tentara sekutu yang telah mulai mendarat di Jawa, yang didalamnya terdapat Belanda yang membonceng pendaratan sekutu tersebut. Tak ayal, provokasi Belanda yang ikut di dalam tentara sekutu menyebabkan para pemuda di sejumlah kota penting di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya merasa dipermainkan. Terjadilah sejumlah insiden-insiden yang merupakan konsekuensi logis dari Belanda yang memancing di air bening kemerdekaan Indonesia yang belum genap enam purnama.

Tentu saja yang paling heroik adalah apa yang terjadi di Surabaya sepanjang setelah kemerdekaan bergema sampai puncak jihadnya pada 10 November 1945 dengan tokoh-tokohnya seperti Bung Tomo, Soemarsono, Roeslan Abdulgani, Doel Arnowo, Gubernur Suryo, dan Moestopo. Hendi Johari dalam bukunya Zaman Perang: Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa menyebut pertempuran Surabaya-yang kelak menjadi momentum Hari Pahlawan ini-sebagai “Neraka Inggris di Pulau Jawa.”

Barangkali kesialan yang tak disengaja ketika tanggal 25 Oktober 1945 di siang hari, 6000 pasukan dari Brigade 49 yang dipimpin oleh Brigjen A.W.S Mallaby mendarat di Tanjung Perak Surabaya yang kemudian berakhir dengan rasa malu. Mulanya disambut baik pemerintah dan rakyat Surabaya. Namun sayang, kebaikan arek-arek Suroboyo disalahartikan.

Disangkanya, rakyat Surabaya akan tunduk begitu saja. Serdadu Brigade 49 di tanggal 27 Oktober 1945 menyerbu penjara-penjara Republik Indonesia untuk membebaskan tawanan tanpa minta permisi pada pemerintah Indonesia yang sudah berdaulat. Suasana ini memancing kemarahan rakyat Surabaya tentu saja. Tak peduli menghadapi tentara yang sudah menang perang dunia kedua, pada tanggal 28 Oktober 1945 semua pos serdadu Inggris diserang. Dalam waktu hanya satu hari, riwayat Brigade 49 Divisi 23 tentara Inggris (sekutu) itu nyaris tamat. Andaikata sekutu tidak mendatangkan pemimpin-pemimpin Indonesia untuk menghentikan pertempuran dan tembak menembak, tulis KH. Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren.

Selepas gencatan senjata antara pihak Inggris dan Soekarno yang sengaja didatangkan ke Surabaya pada tanggal 30 Oktober 1945, Brigjen Mallaby tewas. Tentu saja ini merupakan sebuah aib dari sebuah tentara yang baru pulang dari medan tempur di perang dunia. Seorang jenderal bintang satu dari sebuah negara yang mempunyai tradisi perang yang kuat, nyatanya bisa tewas di sebuah kota dari sebuah negara yang baru saja merdeka. Komposisi tentara yang resmi saja masih meraba-raba bentuknya yang disebut Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tetapi, laskar rakyatnya mampu membuat seorang jenderal tewas secara tak terduga. Inilah yang kemudian menyulut pertempuran heroik 10 November nanti.

Hendi Jo menyebut menurut pihak Inggris, Mallaby gugur ditembak seorang pemuda Surabaya. Sedangkan pihak Indonesia menuduh penembak runduk tentara Inggris-lah yang membunuh jenderal mereka sendiri sebagai dalih untuk menjadikan kematiannya alasan menggempur Surabaya. Dalam catatan kaki Revoloesi Pemoeda (Marjin Kiri, 2018 halaman 187) yang ditulis oleh Ben Anderson, menurut Doel Arnowo yang pada waktu itu menjadi kepala biro penghubung dan kepala KNI Surabaya bahwa ia yakin Mallaby tertembak dengan tidak sengaja oleh anak buahnya.

Des Alwi dalam bukunya Pertempuran Surabaya November 1945 dengan mengutip kesaksian Kapten RC Smith di depan Mahkamah Militer Inggris menuturkan bahwa Mallaby terbunuh tanpa sengaja oleh anak buahnya sendiri. Hal ini seperti diungkap oleh AH Nasution-saya membacanya di Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad-bahwa insiden penembakan Mallaby itu didalangi oleh pihak NICA-Inlander yang menggosok tubuhnya dengan cat hitam sehingga serupa dengan pasukan Gurkha.

Yang jelas, kombinasi antara arek-arek Suroboyo yang nekad dan kaum santri yang tersulut resolusi jihad KH. Hasyim Asy’ari membuat tentara sekutu terhuyung-huyung dan mendapatkan kesialan yang tak pernah terbayangkan. Gertakan Jenderal Mansergh agar rakyat Surabaya menyerah seraya membawa senjata untuk diserahkan maksimal pada pagi hari tanggal 10 November 1945, dijawabnya dengan melakukan perlawanan sengit. Lebih baik syahid berkalang tanah ketimbang menyerah sebagai pecundang.

Pada titik inilah kita bisa belajar arti heroisme pada rakyat Surabaya.


Asep Imaduddin AR

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id dolor at tristique felis Donec id, libero mattis vulputate,