Populer

Kiai NU yang Menantang PKI

Asep Imaduddin AR

Dalam buku “Berangkat dari Pesantren” buah karya K.H. Saifuddin Zuhri, saya menemukan kisah menarik ihwal Musso dan Aidit, dua gembong PKI (Partai Komunis Indonesia) yang sama-sama menjadi tokoh kunci dalam dua peristiwa berbeda. Keduanya tampil menggelegar dengan membawa bendera partai “merah” yang sangat dikenal sejarah. Malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Pamungkas sejarah keduanya berakhir tragis.

Musso tak bisa dipisahkan dengan “Madiun Affair” 1948 bahkan berakhir dengan kematian yang boleh dibilang sadis. Soe Hok Gie dalam karyanya yang telah menjadi klasik, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, menggambarkan akhir seorang Musso bahwa mayatnya dibawa ke alun-alun Ponorogo dan selanjutnya…dibakar.

Sedangkan Dipa Nusantara Aidit adalah tokoh PKI di tahun-tahun ketika partai itu sedang dalam puncak kejayaannya. Bersama dua kawan karibnya, Njoto dan Lukman, ia membawa PKI menjadi sebuah partai besar. Bahkan masuk menjadi partai yang diperhitungkan dalam Pemilu 1955. Perselingkuhan kaum komunis dengan golongan nasionalis dan agama membawa PKI berada di atas angin di tahun 1960-an. Nasib buruk lantas meninju PKI pada tahun 1965 karena dituduh menjadi dalang dari terbunuhnya tujuh pahlawan revolusi.

Siapa menduga, Musso yang dikenal Soekarno sebagai orang yang jago pencak dan suka berkelahi ini pernah takluk oleh seorang Kiai NU (Nahdlatul Ulama) bernama Haji Hasan Gipo.

Beginilah kisahnya yang saya ringkas dari “Berangkat dari Pesantren.”

Suatu ketika, Musso terlibat perdebatan dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah mengenai adanya Tuhan. Sebagai seorang ateis, Musso tentu saja tak percaya pada Tuhan. Perdebatan pun makin seru dan menjurus kasar karena Musso memang seorang yang emosional.

Musso yang berbadan tegap melawan Kiai Wahab yang pendek lagi kecil, orang-orang yang melihat perdebatan pun makin was-was takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Kiai Wahab pun lalu berpikir bahwa tak ada gunanya juga melanjutkan diskusi dengan “orang jahil” semacam Musso ini.

Bukan karena Kiai Wahab takut, untuk seorang Musso saja pasti bisa diselesaikan dengan mudah karena Kiai Wahab yang juga pendekar silat itu pernah menaklukkan 3 atau 4 penyamun yang tubuhnya jauh lebih besar dari Musso ketika melakukan perjalanan angker antara Mekkah dan Madinah sekitar tahun 1920-1925. Diskusi dengan Musso hanya mengandalkan main jotos dan mulut besar, Kiai Wahab merasa buang-buang tenaga saja. Senjata manusia adalah akal pikiran dan akhlak mulia, bukan kepalan tinju.

Haji Hasan Gipo (Tanfidziyah NU tahun 1926) mengambil alih tempat Kiai Wahab dalam berdebat dengan Musso. Haji Hasan Gipo terkenal sebagai seorang tokoh NU yang bisa bermain menurut irama gendang. Main halus, ayo. Main kasar, oke. Singkat kata, semua cara bisa ia layani.

Dan Musso pun ditantang untuk bersama Haji Hasan Gipo menghampiri jalan kereta Surabaya-Batavia di dekat Krian (antara Surabaya-Mojokerto) untuk menyambut kereta api ekspres yang sedang berlari kencang dengan batang leher masing-masing. Begitu kereta api muncul dalam kecepatan tinggi, keduanya harus meletakkan leher masing masing di atas rel agar digilas lokomotif serta seluruh rangkaian kereta api hingga tubuh mereka hancur berkeping-keping.

Nah, dengan jalan demikian, keduanya akan memperoleh keyakinan-ainul yaqin haqqul yakin-tentang adanya Allah Swt…! Tapi Musso yang terkenal berangasan dan mudah marah itu dengan badannya yang besar dan kekar seolah menciut saja ditantang seperti itu oleh Haji Hasan Gipo. Musso pun gentar. Ia takut setakut-takutnya takut pada tantangan itu.

Sedangkan Aidit pernah kena skak mat dari K.H. Saifuddin Zuhri yang pada waktu itu sedang menjabat menteri agama.

Ceritanya, dalam sidang DPA dibicarakan ihwal membasmi hawa tikus yang merusak tanaman padi di sawah, D. N. Aidit dengan sengaja melancarkan pertanyaan dengan nada sindiran. Padahal, waktu itu tempat duduk K.H. Saifuddin Zuhri dengan Aidit hanya berjarak 20 sentimeter saja.

“Saudara ketua, baiklah kiranya ditanyakan kepada Menteri Agama yang duduk di sebelah kanan saya ini, bagaimana hukumnya menurut agama Islam memakan daging tikus?”

Saifuddin Zuhri merasa ditantang dengan sindiran beraroma penghinaan itu. Sebagai seorang tokoh partai yang pintar tentunya Aidit paham betul jawaban dari apa yang ia tanyakan tersebut. Tetapi Aidit dengan sengaja mendemonstrasikan antipatinya terhadap Islam. K.H. Saifuddin Zuhri pun lantas menjawab dengan tak kalah cerdiknya.

“Saudara ketua, tolong beritahukan kepada si penanya di sebelah kiriku ini bahwa aku ini sedang berjuang agar rakyat mampu makan ayam goreng, karena itu jangan dibelokkan untuk makan daging tikus!”

Tentu saja jawaban yang diberikan KH. Saifuddin Zuhri mengundang gelak para anggota termasuk Bung Karno yang memimpin sidang DPA. Saya bisa membayangkan Aidit terdiam seribu bahasa.


Asep Imaduddin AR

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

risus Donec leo consectetur felis quis, Sed