Kontribusi Tionghoa-Indonesia dalam Pergerakan

Mi’raj Dodi Kurniawan

Kalau menyingkap kontribusi sejumlah orang Tionghoa-Indonesia dalam pergerakan nasional Indonesia, maka munculnya isu anti-Tionghoa setiap krisis dan persepsi yang beranggapan orang Tionghoa-Indonesia adalah ‘orang asing’, cukup aneh. Kendati begitu, hal itu bukannya tidak dapat dimengerti. Sebab, selain orang-orang Tionghoa-Indonesia banyak yang berbeda agama dengan mayoritas warga Indonesia dan dinilai kurang berbaur, kebijakan politik pun mengakibatkan hal itu.

Tionghoa-Indonesia ialah salah satu etnis di Indonesia. Leluhurnya berasal dari Tiongkok (China). Biasanya mereka menyebut dirinya dengan istilah Tenglang (Hokkien), Tengnang (Tiochiu), atau Thongnyin (Hakka). Dalam bahasa Mandarin, mereka disebut Tangren (Hanzi atau orang Tang), sebab mayoritas orang-orang Tionghoa-Indonesia berasal dari Tiongkok selatan, yaitu wilayah orang Tang yang membedakannya dengan orang Han yang berasal dari Tiongkok utara.

Isu anti-Tionghoa setiap terjadi krisis dan persepsi yang beranggapan orang Tionghoa-Indonesia merupakan ‘orang asing’ cukup aneh, sebab hal itu seolah-olah menihilkan kontribusi dan saham sosial sejumlah orang Tionghoa-Indonesia dalam sejarah pergerakan nasional. Padahal, kalau kita bersikap historis (mengetahui dan menjunjung tinggi sejarah), tampak bahwa bukan hanya membantu, melainkan juga sejumlah orang Tionghoa-Indonesia aktif memperjuangkan Indonesia merdeka.

Memang di antara mereka ada yang cenderung kontra dengan visi Indonesia merdeka, bahkan bekerja sama (kooperatif) dengan penjajah Belanda. Namun, hal itu bukan fenomena yang luar biasa. Sebab, bukankah sebagian orang Indonesia pun ada yang diuntungkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga kontra dengan visi Indonesia merdeka, bahkan bekerja sama dengan penjajah Belanda? Dengan kata lain, jangan berlaku tidak adil terhadap orang-orang Tionghoa-Indonesia.

Ketimbang mempersepsi orang-orang Tionghoa-Indonesia sebagai ‘orang asing’, lebih baik persepsikan sebagai salah satu etnis atau suku bangsa dalam tubuh bangsa ini, setara dengan etnis atau suku Jawa, Sunda, Batak, dan sebagainya. Selain sesuai dengan konstitusi, persepsi itu pun lebih masuk akal. Ketimbang anti-Tionghoa, lebih baik bersinergi dengan orang-orang Tionghoa-Indonesia, dan pada saat yang sama, orang-orang Tionghoa-Indonesia pun harus lebih berbaur.

Kontribusi

Dalam pergerakan nasional Indonesia, kontribusi orang-orang Tionghoa-Indonesia tidaklah kecil, baik di bidang pendidikan dan perekonomian maupun ikut bergerak dan membantu pergerakan politik merebut kemerdekaan. Kontribusi dari sejumlah orang Tionghoa-Indonesia tersebut seharusnya bukan hanya mengangkat sejarah mereka ke dalam wacana utama sejarah nasional, tetapi juga memosisikan mereka secara setara sebagai pejuang dan warga negara.

Beberapa kontribusi orang-orang Tionghoa-Indonesia dalam pergerakan kemerdekaan dapat dikemukakan di sini. Kesatu, dalam bidang pendidikan, mereka menginisiasi pendirian sekolah bagi orang-orang Tionghoa-Indonesia yang jelas-jelas bukanlah orang-orang Eropa. Pendirian sekolah tersebut dilakukan oleh Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) yang dibentuk di Batavia tahun 1900. Kelak, inisiatif pendirian sekolah ini diikuti keturunan Arab dan menginspirasi Budi Oetomo.

Kedua, ketika perekonomian dunia beralih ke sektor industri, orang-orang Tionghoa-Indonesia tampak paling siap, sebab selain memiliki spesialisasi usaha seperti usaha makanan-minuman, jamu, peralatan rumah-tangga, bahan bangunan, pemintalan, batik, kretek, dan transportasi, mereka juga mempunyai Siang Hwee (kamar dagang orang Tionghoa) yang dibentuk 1906. Siang Hwee menginspirasi pendirian Sarekat Dagang Islam (SDI) di Bogor tahun 1908.

Ketiga, dalam Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928, yang melahirkan Sumpah Pemuda sebagai tonggak pembentukan negara Indonesia, beberapa orang Tionghoa-Indonesia sempat hadir. Antara lain Kwee Thiam Hong dan tiga pemuda Tionghoa-Indonesia lainnya. Keempat, Sin Po sebagai koran Melayu Tionghoa yang dikelola orang Tionghoa-Indonesia berkontribusi menyebarkan informasi yang bersifat nasionalistik seperti lagu Indonesia Raya karya W.R. Supratman.

Kelima, selain mengenal pembentukan Partai Arab Indonesia (PAI), sejarah Indonesia pun mencatat pendirian Partai Tionghoa Indonesia (PTI) oleh Liem Koen Hian pada tahun 1931. Partai politik ini bukan sekadar mengorganisir orang-orang Tionghoa-Indonesia, melainkan juga turut bergerak dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Artinya dalam sejarah pergerakan, orang-orang Tionghoa-Indonesia pun sama-sama melakukan gerakan politik.

Keenam, sekitar tahun 1945, Mayor John Lie, orang Tionghoa-Indonesia, tercatat pernah menyelundupkan barang-barang ke Singapura untuk kepentingan membiayai negara Indonesia. Ketujuh, dalam peristiwa penculikan Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, Karawang, menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, penting dicatat bahwa rumah seorang Tionghoa-Indonesia, Djiaw Kie Siong, pernah dijadikan tempat singgah sementara bagi proklamator tersebut.

Kedelapan, jarang diungkap, akan tetapi penting dikemukakan bahwa dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) terdapat 4 orang Tionghoa-Indonesia. Mereka adalah Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoei, dan Oey Tjong Hauw. Kesembilan, juga jarang diungkap bahwa dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terdapat seorang Tionghoa-Indonesia. Dia adalah Drs. Yap Tjwan Bing.

Kesepuluh, belum banyak dipublikasikan, namun penting dipahami bahwa orang-orang Tionghoa-Indonesia pun banyak yang turut serta dalam perjuangan fisik merebut kemerdekaan. Satu diantaranya adalah Tony Wen. Orang Tionghoa-Indonesia ini terlibat secara fisik dalam aksi heroik menurunkan bendera penjajah kolonial Belanda di Hotel Oranye, Surabaya, 19 September 1945.

Jadi, selain over-generalisasi, sikap anti-Tionghoa dan mempersepsikannya sebagai ‘orang asing’ pun, ahistoris.


Mi’raj Dodi Kurniawan Penulis Terverifikasi

Sarjana Pendidikan Sejarah UPI. Sedang menyusun tesis di Prodi Sejarah Sekolah Pascasarjana UPI. Pengurus Pusat IKA UPI. Pengurus Ikatan Alumni Pendidikan Sejarah FPIPS UPI. Anggota KAHMI. Pengurus ICMI Orda Cianjur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *