Mata Indonesianis: Dari Kolonialisme hingga Orientalisme

Syahdan, tahun 1953, Haji Agus Salim pernah menghadiri jamuan makan dalam rangka penobatan Ratu Elizabeth II di Buckingham Palace, Inggris. Tak sengaja, Haji Agus Salim melihat Pangeran Philip dan kemudian mengajaknya berbincang sambil ia menyedot kretek dan mengibaskan asapnya di hadapan hidung pangeran lalu bertanya apakah Pangeran Philip mengenali aroma tersebut.

Sang Pangeran menggeleng sebagai tanda tak tahu. Agus Salim lalu menjawab dengan telak, “Paduka, aroma inilah yang menyebabkan bangsa paduka mengarungi lautan 400 tahun yang lalu dan menjajah tanah kami”. Mendengar jawaban Haji Agus Salim, sang pangeran hanya tersenyum kecut.

Ya, imperialisme di Indonesia adalah fakta sejarah sekian puluh tahun lalu, tak bisa dibantah. Mulanya kolonialisme penguasaan atas rempahrempah dan hasil bumi untuk memperkaya negeri penjajah dalam meluaskan dominasi. Inggris, Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis wujud sebagian dari negeri penjajah itu. Mereka menjarah dan menguasai. Tak salah jika tagline penguasaan barat ke timur disimbolkan pertama dengan gold, selain gospel dan glory.

Fase selanjutnya, kolonialisme tak hanya berkutat dengan rempah, nasi, dan sagu, melainkan juga penguasaan masyarakat. Istilah Antonio Gramsci menyebutnya dengan hegemoni. Hegemoni beroperasi pada ranah kesadaran. Dominasi tak mesti diatur dengan senjata dan kekerasan tetapi juga bisa ditata dengan peraturan, undang undang, dan kebijakan. Hakekat tetap menjajah tapi tak terasa dijajah. Sehingga masyarakat tanpa terasa manut, tunduk dan mengikuti.

Kebijakan politik etis: edukasi, irigasi, dan transmigrasi. Sejatinya sebentuk hegemoni yang diluncurkan kolonial Belanda untuk meninabobokan bangsa pribumi. Politik etis dirancang agar tingkah laku inlander sesuai dengan apa yang dikehendaki. Untunglah kemudian, politik etis menjadi senjata makan tuan bagi Belanda. Salah satu diantaranya karena munculnya-meminjam istilah Abdul Rivai-bangsawan pikiran.

Selanjutnya, kolonialisme bersalin rupa menjadi dengan orientalisme. Tepatnya, orientalisme adalah bentuk halus dari penguasaan gaya baru di zaman yang lebih maju.

Edward W Said dalam magnum opusnya, Orientalisme, mendedahkan dengan cemerlang bagaimana Barat mengatur laku Timur dengan melacak akar historis, etnografis, antropologis, bahasa, adat istiadat dan lainlain. Kemudian memberi stereotype terhadapnya. Buku yang banyak menuai pujian ini secara nyata menunjukkan bahwa Timur yang dikaji adalah hasil dari imajinasi geografis dari Barat sebagai objek pengkaji. Said menyebutnya sebagai orientalis, dalam konteks keindonesiaan kita menyebutnya sebagai Indonesianis.

Penguasaan kolonial Belanda dalam mitos Sejarah Indonesia- disebut bercokol selama 350 tahun meneguhkan bahwa masa lalu Indonesia sebenarnya terletak di Belanda. Dengan telaten dan tekun, Belanda lewat para orientalis dan lembagalembaga kajian Timur secara intensif menguliti rupa aspek nusantara.

Beberapa diantaranya menjadi legendaris terhadap kajian Indonesia. Sebutlah misalnya, seperti Snouck Hurgronje yang menulis De Atjehers, G.L Gonggripj dengan karyanya Schets Eener Economische Geschiedenis van Nederlandsch-Indie, Taco Roorda yang menekuni Bahasa Jawa, Van Vollenhoven, Van der Tuuk yang bergelut dengan kebudayaan Batak, P.J Veth yang menulis empat jilid Java: Geographisch, Ethnologisch, Historisch, Brandes, dan generasi pengkaji Indonesia yang lebih muda. Ini menunjukkan bahwa Indonesia ada di sudut mata para Indonesianis.

Bahkan Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV) yang merupakan lembaga penelitian terpandang tentang masalah Asia Tenggara dan Karibia, dalam brosurnya mengatakan bahwaRibuan buku, jurnal dan majalah, serta berkilometer mikrofilm yang memuat surat kabar dan laporan diperoleh, dikatalogisasi, dan dikirim ke Perpustakaan KITLV di Leiden. Tidak hanya itu, beberapa program televisi setiap hari direkam dalam bentuk DVD untuk koleksi KITLV di Leiden”.

Benar bahwa hal itu sangat membantu menambah wawasan, tetapi, tak cukup pasrah menerima informasi dan gagasan yang disodorkan, sikap kritis juga perlu dikembangkan.

Asep Imaduddin AR Penulis Terverifikasi

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *