Raden Saleh dan Hindia Molek yang Terkoyak

Asep Imaduddin AR

Harum wangi cengkeh, kopi, tembakau, dan rempah rempah lain sampai juga di daratan Eropa. Menggoda hidung para penjelajah untuk hinggap barang sekejap ke tanah yang mungkin masih antah berantah. Sejumput harapan sedang dibayangkan, mendambakan kilatan emas yang berada di pelupuk mata.

Tak terkecuali seorang bernama Cournelis de Houtman, seorang Belanda yang mampir di Banten pada 1596. Ia terkejut dengan melimpahnya kemolekan dan kekayaan nusantara yang sedang dijamahnya itu. Kedatangan de Houtman mengetuk pembabakan baru sejarah nusantara.


Mulanya memang Portugis, kemudian menyambung berwajah dagang oleh kolonial Belanda yang menyalin rupa dirinya menjadi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sempat sukses beberapa puluh tahun, malahan sampai mempunyai hak oktroi  dengan kewenangan memiliki benteng, pasukan, dan mata uang.

Kejayaan VOC tak berlangsung lama, karena terpapar oleh korupsi yang parah, VOC limbung pada penghujung 1799. Pasca runtuhnya VOC itulah kemudian secara resmi pemerintah kolonial Belanda menancapkan kukunya.

Belanda menganggap nusantara dalam pelukannya itu adalah anugerah. Timur itu sesuatu yang eksotik, romantis, menenangkan, menerbitkan rasa damai. Tanah yang subur dan pemandangan yang cantik. Para penghuninya tak kalah ramah. Maka tak heran jika dalam periode kolonial itu banyak orang Belanda yang datang ke nusantara, untuk menjalankan tugas di wilayah jajahan atau sekedar tetirah.

Muncullah kemudian sebutan Parijs van Java untuk Bandung atau Swiss van Java buat kota Garut. Seolah olah tempat itu adalah kampung mereka sendiri. Hal ini tak lepas dari pencitraan positif Belanda atas nusantara. Tanah ini sering disebut Mooi Indie atau Hindia Molek. Selain lewat propaganda tulis para Orientalis dan Indonesianis, pihak kolonial juga “memanfaatkan” keanggunan citra visual via pelukis. Salah satunya adalah lewat Raden Saleh Syarif Bustaman.

Raden Saleh adalah anak pribumi hasil didikan Eropa. Ia mengenyam pendidikan ala barat ketika mula mula belajar melukis di Cianjur dan Bogor lewat jasa baik seorang pelukis berkebangsaan Belgia, Antoine Auguste Joseph Paijen. Sebelum kemudian, Raden Saleh memuaskan dahaga intelektual melukisnya di Eropa.

Konon, Raden Saleh terpengaruh-salah satunya-oleh Delacroix, seorang penganut romantisisme di Perancis. Namun, saya melihat bahwa romantisme Hindia Molek yang diusung Raden Saleh bukan romantisme “munafik” yang hanya menampilkan keindahan dan keanggunan semata untuk menutupi keadaan sebenarnya yang terjadi di tanah Jawa, tanah kelahirannya sendiri.

Raden Saleh saya kira bermain main dengan berbagai macam metafora dalam setiap lukisannya yang membawa pesan tersendiri. Tergantung bagaimana kita menafsirkan makna yang terkandung dalam lukisannya.

Saya meyakini misalnya ketika Raden Saleh membuat lukisan indah nan mengharukan tentang penangkapan Pangeran Dipanagara oleh Jenderal De Kock yang diberi tajuk: Historisches Tableau, die Gefangennahmen des Javanischen Hauptling Dieponegoro, ia menyadari kemungkinan kemungkinan konsekwensi konsekwensi yang akan dia terima jikalau hasil karyanya itu bernada subversif. Suasana batin rasa kebangsaannya mungkin sedikit bergolak.

Ia memuncratkan emosi rasa kebangsaannya dengan ikut andil sekecil apapun. Hindia yang molek ia hamparkan secara berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam tafsiran kepala kolonial. Ia seolah olah ingin seperti berkata bahwa Hindia sebagai penghasil rempah juga dibelit kebijakan kolonial yang tak berperikemanusiaan bernama culturstelsel. Lukisan yang berjudul Perkelahian dengan Singa saya pikir cukup mewakili pandangan tersebut di atas.

Belanda mungkin menyangka Raden Saleh yang lama tinggal Eropa telah berada dalam ketiaknya, nyatanya tak sepenuhnya benar. Saya kira Raden Saleh lewat beberapa lukisannya telah berhasil membalikkan persepsi tentang Mooi Indie. Hindia yang molek telah terkoyak akibat imperialisme. Diskriminasi yang sangat tajam dan segregatif. Kemuliaan manusia diukur lewat warna kulit dan-meminjam istilah Abdul Rivai-bangsawan usul. Inilah titik nadir dari penguasaan yang kolonialistik.

Tak beda dengan dahulu, sekarang pun sama saja. Kemolekan dan keanggunan masyarakat Indonesia dikoyak oleh korupsi serta ketidakbecusan para pemimpin negeri ini. Konflik horizontal malah semakin massif. Keramahan yang dulu mempesonakan ada baiknya ditinjau ulang. Akhir akhir ini kekerasan sudah seperti-meminjam ungkapan Syafii Maarif-mata pencaharian.

Banyak kritik telah lama dilontarkan,  namun sayang, seringkali kita terperangkap kembali dalam kubangan yang sama. Mungkin hanya keledai yang jatuh pada lubang yang serupa sebanyak dua kali.


Asep Imaduddin AR

Lulus dari Pendidikan Sejarah UPI Tahun 2005 dengan skripsi tentang Murtadha Muthahhari. Beberapa tulisannya sempat dimuat di Galamedia, Pikiran Rakyat, Kompas Jawa Barat, Suara Muhammadiyah, Koran Jakarta dan Media Pembinaan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *