Populer

Soekarno di “Parijs van Java”

Asep Imaduddin AR

Setelah menamatkan pendidikan menengahnya di Surabaya, Soekarno melanjutkan kuliahnya di THS (kini ITB) jurusan Teknik Sipil. Ia merupakan salah satu generasi awal yang mendapatkan efek dari kebijakan politik etis yang dijalankan oleh pihak kolonial dalam bidang pendidikan.

Ketika di Surabaya ia berada dalam gemblengan Tjokroaminoto, maka di Bandung, secara tak disadari Soekarno, ia sedang memasuki kancah dunia pergerakan yang sesungguhnya. Bisa dikatakan, kalau di Surabaya Soekarno mendapatkan teorinya, di Bandung-lah ia mempraktikkannya. Pada masa itu, Bandung merupakan tungku kaum pergerakan nasional yang sudah jijik dengan rezim penjajah Belanda.

Tamat sebagai sarjana teknik tentulah merupakan jalan mulus untuk meraih karir yang menjanjikan. Dengan spirit non kooperasi, Soekarno menolak menjadi pegawai pemerintahan Hindia Belanda bagian Dinas Pekerjaan Umum. Ia malah menerima tawaran menjadi guru di Ksatrian Institut milik Douwes Dekker. Ia mengajar Ilmu Pasti dan Sejarah. Konsekuensi ia mesti berhemat dan hidup pas-pasan, apalagi ia sudah mempersunting Inggit Garnasih sewaktu kuliah.

Soekarno yang sedang terobsesi pada persatuan dan kemerdekaan, memutuskan secara penuh waktu terjun ke dunia politik. Ia tak ingin setengah-setengah dalam mewujudkan cita-citanya membawa Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan. Tepat di tanggal 27 Juli 1927 ia memimpin Perserikatan Nasional Indonesia, cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI). Deklarasi sederhana itu berlangsung di Paviliun Soekarno-Inggit di Regentweg No. 22 Bandung.

Nama Soekarno yang mulai menanjak pada usia muda, telah menjadikan Bandung sebagai “kiblat” perjuangan kemerdekaan. Tak pelak, ia pun menjadi incaran pihak kolonial akibat agitasi-agitasi yang dikobarkan Soekarno di setiap pertemuan dan rapat akbar yang digalang oleh PNI. Akibatnya, selepas melakukan perjalanan politik ke Jawa Tengah, Soekarno beserta koleganya yaitu Maskun dan Gatot Mangkupradja dijebloskan ke Penjara Banceuy di pergantian tahun 1930.

Penjara tak bisa membuat Soekarno terbelenggu. Ia secara kreatif dengan berbagai cara mencari informasi dari kawan-kawannya ihwal dunia pergerakan pasca dirinya ditangkap. Lewat sipir penjara yang simpatik pada perjuangan Bung Karno, ia bisa membaca surat kabar AID de Priangan Bode,  Sin Po, surat kabar berbahasa Sunda Sipatahunan, dan buku-buku lainnya.

Di Penjara Banceuy itulah kemudian ia menulis pembelaannya yang terkenal berjudul Indonesia Menggugat, yang dibacakannya di persidangan Landraad Bandung. Penjara tak membuatnya meriut dan kehilangan harapan, justru Bung Karno memanfaatkan penjara dan pengadilan sebagai medan panggung dalam mengkomunikasikan pandangan politiknya. Tudingan terhadap jahatnya kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme membuat Soekarno menjadi buruan nomor satu. Ia kemudian mencicipi Penjara Sukamiskin setelah Banceuy.

Konon, Soekarno ikut merancang penjara Sukamiskin ketika ia masih magang di Biro Arsitek milik Profesor Schoemaker. Sungguh ironis. Dan kini ia meringkuk didalamnya. Untunglah, ia hanya setahun didalamnya. Keluar dari Sukamiskin, Soekarno dihadapkan realitas politik yang pahit. Ia mendapati PNI yang didirikannya sudah membubarkan diri dalam Kongres Luar Biasa di Batavia tanggal 25 April 1931.

Bung Karno tak putus asa. Ia masuk sebagai “darah segar” di Partai Indonesia pimpinan Mr. Sartono. Kehadirannya mendongkrak popularitas partai tersebut, dan menjadikan kembali Soekarno sebagai sosok yang mengancam Pemerintah Hindia Belanda. Sepak terjangnya makin menjadi-jadi. Salah satunya melalui tulisan tajam bertajuk “Mentjapai Indonesia Merdeka” yang dimuat dalam Fikiran Ra’jat dan majalah Persatoean Indonesia.

Alhasil, risalah yang membuat kuping penjajah marah membuat Soekarno diciduk, dan untuk kedua kalinya ia dijebloskan ke Penjara Sukamiskin. Agar Soekarno tak dekat dengan rakyatnya, ia mesti dijauhkan dari massa dan keramaian. Pemerintah kolonial lalu memutuskan lewat dekrit nomor 2 z bahwa Bung Karno harus menjalani pembuangan di Ende, Flores. Tamatlah kerja politik Soekarno di Bandung.


Asep Imaduddin AR

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

massa Praesent ut ipsum pulvinar amet, elementum nunc Phasellus sem,