Tan Malaka: Membangun Indonesia Dengan Kata

Asep Imaduddin AR

Noriaki Oshikawa, Associate Professor pada Daito Bunka University, pernah menulis artikel panjang sehalaman koran dalam suplemen surat kabar KOMPAS tertanggal 1 Januari 2000 bertajuk Tan Malaka: Berpikir tentang Nasib Gagasan Politik. Tulisan padat yang mengupas relasi Tan Malaka dengan gagasan-gagasan politiknya yang dihamparkan sepanjang masa hidupnya di pembuangan dan berakhir ironi di negeri yang selalu diperjuangkannya.

Saya menemukan dan membaca kembali lembaran suplemen itu yang telah tersimpan lebih dari satu dasa warsa yang silam, ketika saya masih berkuliah pada tingkat tingkat awal di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung dengan mayor studi sejarah. Di sebuah lemari tua, suplemen itu tersimpan rapi dengan halamannya yang mulai menguning.

Saya masih ingat, di waktu koran edisi khusus ini hendak terbit, KOMPAS membuat pengumuman bahwa di hari pertama awal millenium ketiga akan ada suplemen khusus yang membahas Indonesia dengan segala perspektifnya, dan jumlah halamannya pun pasti tebal, lebih dari biasanya. Salah satu isinya, ya..tulisan Oshikawa ini.

Oshikawa di awal-awal tulisannya mencatat bahwa “Tan Malaka tidak pernah menang dalam pergulatan merebut kekuasaan politik. Lagi pula hampir separuh masa hidupnya dilewatkan di luar negeri antara lain Belanda, Rusia, Cina, Filipina, Hongkong, dan Singapura. Dan, kecuali masa disekam dalam penjara, aktivitas politiknya secara terbuka dalam negeri Indonesia dilakukan selama hanya dua tahun. Persis seperti judul otobiografinya, masa perjuangan Tan Malaka penuh penangkapan dan pembuangan bisa dilukiskan sebagai riwayat dari penjara ke penjara”.

Hidup Tan Malaka memang tak pernah lepas dari bui ke bui. Ia kenyang dengan kejaran polisi dan intel. Menghindari mata-mata dan berpindah pindah tempat. Dari kota ke kota, melintas batas negara hingga ia relatif tak bersentuhan dengan cinta. Mengenai ini, Tan pernah ditanya oleh Adam Malik-kelak menjadi wakil presiden-apa ia pernah jatuh cinta. Tan Malaka menjawab “Pernah, tiga kali malahan. Sekali di Belanda, sekali di Filipina, dan sekali lagi di Indonesia. Tapi yah, semua itu katakanlah hanya cinta yang tak sampai, perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan. Adam Malik menuliskan pernyataan Tan Malaka ini dalam bukunya Mengabdi Republik. Saya membacanya di salah satu majalah berita mingguan yang menampilkan edisi khusus Tan Malaka.

Garis hidup Ibrahim Datuk Tan Malaka memang tak pernah lelah bersentuhan dengan ide-ide kemerdekaan dan anti kolonialisme, walau pada akhirnya ia-meminjam ungkapan Harry A. Poeze, biografer Tan Malaka-dihujat dan dilupakan. Pada akhirnya memang bisa dikatakan bahwa Tan Malaka menelan tragedi sejarah sebuah negara yang ia ikut dirikan dengan keringat dan darah.

Saya kira ketakutan polisi kolonial dan pihak pihak yang mengecamnya di dalam dan luar negeri bukan terletak pada segi fisik Tan. Ia hanya bertinggi 165 sentimeter. Tinggi rata-rata orang Indonesia. Tan Malaka juga bukan pemimpin militer yang mempunyai anak buah dan senjata yang pada zaman kini sering disalahgunakan bukan pada tempatnya. Yang membuat namanya bergaung dan memiliki daya pukau hebat menembus ruang-ruang orang yang se ide dengannya adalah kekuatan literasi atau kata-kata yang dibangun olehnya semenjak ia belia.

Kalau merujuk pada penelitian Harry A. Poeze yang menyatakan bahwa Tan lahir pada 1897, maka Tan Malaka menulis risalah pertamanya yang berjudul Parlemen atau Soviet pada usia 23 tahun. Sungguh usia yang sangat belia. Mungkin jika kita konversi sekarang, pada usia-usia tersebut kita sedang asyik asyiknya hang out di mall, nongkrong di kafe, main game di warnet atau leyeh leyeh di bioskop melihat film-film baru.

Memang, para founding fathers republik ini meyakini dengan kesadaran yang pasti bahwa kekuatan kata yang tertuang dalam risalah atau buku akan membawa gemanya pada domain yang lebih luas, apalagi ditulis dengan bahasa asing. Soekarno menulis Indonesia Menggugat ketika umurnya belum genap 30 tahun, begitu pun Hatta ketika menulis pledoi di hadapan pengadilan di Den Haag Negeri Belanda. Ia menulis sendiri Indonesia Vrij sewaktu berusia 26 tahun. Usia-usia ranum namun penuh dengan pikiran-pikiran yang jauh ke depan.

Mereka (Tan, Soekarno, Hatta, dan lainnya) sadar bahwa perjuangan mencapai kemerdekaan tak selalu dengan perlawanan fisik mengangkat popor senjata sembari meledakkan meriam, namun juga mesti dibarengi dengan perjuangan cerdas dengan cara lain. Salah satu diantaranya adalah dengan melakukan penyadaran jangka panjang melalui buku-buku yang dicetak dan pendidikan, imbas dari politik etis. Tak heran jika Ben Anderson menyebut bahwa nasionalisme tersebar oleh print capitalism.

Dan Tan Malaka adalah salah satu yang melakukan itu sebelum Soekarno dan Hatta menulis risalah-risalah yang tak kalah hebatnya itu. Risalah atau buku Tan Malaka yang dianggap sebagai jalan menuju kemerdekaan sebuah negara bernama Indonesia adalah Naar de Republiek Indonesia yang ditulisnya pada April tahun 1925 di Kanton, Cina. Tan saat itu kira-kira berusia 28 tahun.

Saya pikir inilah sebuah buku yang dengan berani menampilkan identitas Indonesia. Ia menjadi semacam pengikat emosional di antara jiwa-jiwa yang rindu akan kemerdekaan. Dicetak terbatas dan diselundupkan secara klandestin. Buku ini dianggap berbahaya. Merongrong rezim kolonial. Maka tak salah jika kemudian buku ini menjadi referensi aktivis kemerdekaan macam Bung Karno dan Muhammad Yamin, kelak menjadi dua tokoh penting republik.

Buku lain Tan Malaka yang menginspirasi jalan menuju “Merdeka 100%” adalah Massa Actie yang ditulis di Singapura. Semacam panduan bagaimana melakukan revolusi massa.

Kisah masyhur tersembul dari imbas pembacaan Wage Rudolf Supratman terhadap Massa Actie. Konon katanya, W.R. Supratman telah mengkhatamkan seluruh isi buku ini dan kemudian mengilhaminya menciptakan Indonesia Raya, diperdengarkan pertama kali pada Kongres Pemuda II di Jakarta.

Buku penting lain Tan Malaka adalah Madilog, akronim dari Materialisme, Dialektika dan Logika. Sebuah buku yang ditulis sepanjang 259 hari dari 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943. Buku ini merumuskan tatanan berfikir agar terhindar dari cara berfikir yang tak rasional, feodal, mistis, dan dogmatis yang bisa membahayakan bangsa Indonesia.

Jika melihat jangka waktu penulisannya, maka buku ini ditulis di tengah tengah masa genting pemerintahan militer Jepang yang konon katanya sangat kejam. Merah putih tak boleh dikibarkan. Organisasi politik dibubarkan. Radio mesti disembunyikan. Belum lagi kewajiban romusha dan pemaksaan menjadi jugun ianfu jika menjadi perempuan.

Tan Malaka berhasil mengatasi rasa takut akan kekejaman Jepang. Jelas ini merupakan sesuatu yang hebat, bisa menghasilkan sebuah karya yang mengagumkan, dan dibaca oleh para aktivis hingga kini.

Sulit untuk tak bisa dikatakan bahwa Tan Malaka mempunyai kontribusi besar dalam melempengkan jalan menuju kemerdekaan walau ia sendiri tak sempat menikmatinya. Keburu dihantam arus revolusi yang selalu “memakan anaknya sendiri”. Buku-buku dan tulisannya menjadi inspirator dan penggerak bagi siapapun yang mencintai kemerdekaan. Sebuah kemerdekaan yang bukan diperoleh dari hadiah melainkan dari hasil perjuangan tangan dan kaki sendiri.

Dengan buku-buku yang ditulisnya itu, Tan Malaka berperan dalam peralihan Indonesia dari periode kolonialisme ke orde kebebasan, zaman kemerdekaan.

Dalam otobiografinya, Dari Penjara Ke Penjara, Tan Menulis “Pada permulaan Bulan Agustus saya menuju ke arah Republik Indonesia, bukan  lagi dengan pena diatas kertas, di luar negeri, seperti lebih dari dua puluh tahun yang lampau melainkan dengan kedua kaki diatas Tanah Indonesia sendiri!!


Asep Imaduddin AR

Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan Sejarah UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

commodo mattis sem, felis at ultricies id libero